FineCoffee

Tuesday, April 04, 2006

"Bite interrupted" - Red tablecloth dinner

Semalem lagi asyik cornered dinner (makan malam di pojokan – red :P) dengan ‘The Long Time No See and Special’, eh ada missed call 2x. Karena nomornya asing ya udah didiemin aja, ntar kan nelpon lagi. Lagian sapa suruh nomernya asing kan?

‘Gak lama kemudian ada sms dari nomor asing tadi:
’Bisa tolong telpon saya pak? Dari David Mandias’
Loh David Mandias kan ketua RT di rumah?
o/o : “Pak, anjing Bapak gigit pembantu saya sampai saya harus bawa ke rumah sakit!” kata pak David.
Atchdduuuh! Ngrusak Oriental dinner deh.
x/x: “Itu gara-gara anjing saya suka digangguin Pak, makanya belakangan jadi galak”.
Kan ada idiom sebelum dimarahin, marahlah duluan (agak ngawur gak ‘papa huahahahaa).
o/o: “Oh gitu, tapi ini…”
x/x : “Iya Pak, tiap pagi tuh tukang sapu kompleks suka mancing-mancing (anjing kok dipancing…), belum lagi kalau anak-anak kecil lewat suka diusilin. Makanya kalau ada orang lewat jadi agresif dia”
o/o: “Ya tapi kita bicarakanlah pak, besok jam 8 malam ya di rumah saya, sekalian beberapa warga juga komplain dikejer anjing Bapak itu…”
(Halah, ini mah didramatisir pak..pak)
x/x : “Gak bisa pak, jam 8 saya belum sampai rumah”
(Saya karyawan pak, bukan pengusaha)

--------------
Adalah si Batman, jantan, hitam tanpa ekor keturunan kampung vs Rothweller (nulisnya gimana ya, seperti David LeRoth?) umur 2.5 tahun bungsu dari tujuh puppies yang lain.
Sebagai bukti bahwa dia anjing kampung adalah ketidakdoyanan dia terhadap biscuit anjing seperti di iklan-iklan itu (payah, nggak brand oriented!). Mandi seminggu dua kali dengan shampoo Rejoice, suntik anti rabies dan segala macam secara rutin. Makanannya rebusan ati sapi, susu indomilk dan suka nyerobot coklat atau es krim. Jadi kalau sampai makan betis pembantu, itu pasti rekayasa bukan?

-------------
Jam 11 malam telpon ke pak David Mandias, sekedar balas dendam interupsi dinner tadi.
x/x : “Pak David, anjing saya seharian tidak keluar rumah. Jadi anjing siapa yang menggigit pembantu Bapak?”
o/o : “Oh begitu? Nggg…coba ya besok pagi saya Tanya pembantu saya lagi”
(Yee… yang detail dong, detail! :P)
x/x : “Soalnya ya itu tadi Pak, anjing saya sering digangguin, mungkin terus di generalisasikan bahwa yang menggigit adalah anjing saya. Cross check deh pak besok pagi-pagi sebelum ngantor”

Tadi pagi.
Adalah Husin, sopir yang tiap pagi nganterin anak-anak sekolah.
+/+ : “Pak, kemarin sore pas saya nyuci mobil, pintu kebuka dan Batman lepas, Nggigit pembantu pak RT”
(Yaaaaahh….)
x/x : “Kok nggak bilang sih??”
(sambil nyari alesan ke Pak David)

x/x : "Pagi pak David, jadi begini pak....."
o/o : “Kata pembantu saya, sopir Bapak bilang nggak ‘papa, lewat aja eh..’taunya gigit pembantu saya. Sekarang pincang dia. Emang bener kok yang gigit anjing Bapak”
x/x : " ---"

Huh, emang anjing!

Tuesday, February 28, 2006

“A New Meal” – too much coffee will kill you, daaaamn!

No sea food. No steak. No sate. No kebab. No shashlik. No salad. No pasta. No chicken. No duck. No ham. No lamb chop. No cheese. No pork. No sausage. No egg. No mie jawa. No Hong Kong noodle. No ketoprak. No siomay. No mushroom. No lettuce. No durian. No soda. No ice cream. No alcohol. No wine.
--------------------------
And definitely no coffee, at all!
--------------------------
I have to live with brown rice beverage. Every single day.
Look at this closely : Minuman Segera Serbuk Beras Perang. All in One.
Nature’s Own.
(definitely it’s not own by me. It’s a doctor's rule!)

Tuesday, February 21, 2006

“Friday Nite prediction” – a camera’s point of view

Sewaktu saya tanyakan ke seorang teman :”Kenapa sih bikin acara selalu Jumat malam?”
Jawabnya adalah : “Lah, kan besoknya libur, nggak harus kerja”.
Make sense.
Understandable.
Human.
Tapi bukankah everybody does the same?
Katanya kita di bisnis yang harus keluar dari clutter?
Kenapa nggak Senin, Selasa, Rabu, Kamis dan kenapa harus diakumulasikan di hari Jumat?
Apakah kita tidak bisa membuat Senin, Selasa, Rabu, Kamis menjadi hari yang menyenangkan? That’s the challenge bukan?

Coba deh lihat…
Jumat mulai jam 5:30, perempuan-perempuan sudah mulai ngilang satu persatu. Kalau toh masih ada udah blingsatan nggak karuan.
Di luar mulai macet (nggak bosen ya ditimpa macet tiap hari – coba dibikin merata di Senin, Selasa, Rabu dan Kamis).
Jam 7:00 malam kalau kita lewat di jalan, mata kita seperti kamera dengan track yang super panjang.
Di sana ada si Frengki lagi dinner sama (sapa Freng?)
Geser dikit kita lihat si Franky (pakai ‘y’) lagi digelendotin (sapa lagi Frank?)
Ke Selatan lagi terlihat si Frankee (pakai ‘ee’) beralasan dinner sama klien wanitanya (hallah!)
Shifting focus, di belakangnya yang semula blur tampak si kembar Prengki and Prenky ngedate sama (kok nggak bilang2 sih Preng?)
Tilted up dikit view kita, terlihat Prengkey lagi nyodok bola 8 sama (pantat sapa tuh Preeeng…?) superlow cut jeans.

Reverse jenis kelamin. Sama aja.
Miss Marunda (konon eks finalist None Jakarte) mojok sama TTM nya (mendingan TTML).
Di ujung jalan Missy Marunda (beda ‘y’) masih berkostum ‘professional urban sensation’ cekikikan dengan kelompok metrosexualists (mudah-mudahan sambil menambah wawasan – inget anekdot Pangeran Diponegoro di pemilihan None Jakarte?)

-------------
Kontestan None Jakarte (namanya Miss Marunda) ditanya juri (namanya Mas Yudi – juri tauk!) : ‘Siapa tokoh idola Anda?’
Miss Marunda merasa wajib menjawab sebagai nasionalis : ‘Saya mengidolakan Pangeran Diponegoro yang ganteng dan gagah itu’
Mas Yudi (juri ah!) : ‘Lho bukankah beliau sudah meninggal?’
Miss Marunda : ‘Hah? Masa’ sih maaas…? Kapaan…? (dengan logat menye-menye, mengingatkan kartun favorit Benny and Mice di kompas minggu)
Mas Yudi (please deh, juri!) : ‘Anda nggak tahu? 1830’
Miss Marunda : ‘Habis magrib dooong?’
(What can you say?)
--------------

Malem dikit kedengeran bunyi tek-jing tekjing, jedag-jedug para Frengki mengosek ubin dan manggut-manggut di kelab malam – istilah pak Ali Sadikin (lucu ya, padahal beatnya monoton… Hidup rock and roll!).
Dalam satu lintasan semua tertangkap retina mata seperti camera tracking.

Linear, tanpa dimensi dan depth of field. Teruus berulang lagi setiap jumat malam. Di mana asyiknya ya?
Holiday?
Holiday is a mind set.
I guess.

Friday, February 17, 2006

“Ronin” – There’s no Master. And they keep it that way

Sebenarnya untuk siapa ya kita bekerja? Untuk klien kah? (No. We work WITH client not FOR client). Untuk kepentingan brand kah? Untuk President Director kah? Untuk billing agency kah? Untuk mengisi waktu kah? Untuk mengisi perut kah? Untuk melunasi cicilan rumah kah? Untuk mengatasnamakan ‘fun’ kah?

Saya yakin jawabannya bisa bermacam.
Si Pengusaha mungkin bilang untuk menimbun profit dan menepis defisit.
Si Sopir taksi mungkin bilang untuk urusan perut anak istri.
Si Hedonist mungkin bilang untuk menjaga kestabilan pada pemujaan roh yang namanya ‘gemerlap’.
Si Pengutang mungkin menjawab untuk pelunasan cicilan.
Nah, kalau si karyawan?

Sebelum terlanjur menjawab : “Untuk memajukan perusahaan”, terbersit semacam ‘opinion review’ yang mengatakan : “Ah, apa iya sih?”
Kemudian memicu opini-opini lain yang saling berkecamuk di kepala.
x/x : “Lah, kan gue nggak selamanya akan di perusahaan itu”
x/x : “Lah, kan kerja sama si anu belum tentu menyenangkan”
x/x : “Lah, kan bisnisnya naik-turun”
x/x : “Lah, kan ini bukan perusahaan gue”
Dan berbagai macam “Lah…” yang lain.

Bener nggak ya bahwa eksistensi karyawan itu agak mirip dengan tentara bayaran? Of course uang adalah elemen yang penting dan sah-sah saja dijadikan reason atau motivasi. Tapi bayangin kalau untuk menjadi tentara bayaran aja nggak perform.
Mungkin dalam satu periode bayaran dia terima upahnya, tapi akan bisa bertahan seberapa lama ya?
Atau apakah akan ada para pembayar lain yang mau merekrut?
Maka mungkin kuncinya adalah kemampuan atau performance untuk bisa survive.

No matter mau kerja di mana, profesi apa, durasi kontrak yang seberapa, gaji dan fasilitas yang seperti apa, yang namanya performance perginya nggak akan jauh dengan eksistensi bukan? Sepertinya begitu.

------------

Maka pergilah ke 11 Ronin (atau Ocean Eleven? :P) menembus kabut tebal di Puncak, mengesampingkan pekerjaan hari itu dengan satu fokus : Performance.
Ronin yang diindoktrinasi untuk aware dan loyal kepada profesi di manapun dia berada. Untuk bisa survive dalam kondisi siapapun yang dihadapinya nanti. Bukankah profesi juga merupakan kemampuan yang didayagunakan secara konsisten?

Jadi, untuk siapa kita bekerja sebenarnya?
Untuk tetap perform pada profesi!
Roniiiin…..
(Halaaah, dasar karyawan!)

Friday, February 10, 2006

“Another world” – smoky Bajigur

Oh… ternyata masih ada lho yang namanya jam 5 pagi.
Kemana aja aku selama ini?

Bangun jam 9 pagi, males-malesan, nongkrongin mobil di bengkel, nyari-nyari kerusakan biar ada alasan ganti onderdil?
Main PS sampai tangan keram?
Atau ngopi trus tidur lagi?

-------

Wadoow… ternyata masih ada lho.
Libur-libur bangun jam 5 pagi dengan mountain bike made in Sidoarjo keluar komplek ‘nge-gep’ satpam meringkuk pules di posnya, papasan sama pejogging pagi, mencium aroma rumput segar, nerobos boulevard ke bawah deretan pohon kelapa sawit berlumut.

-------

Wow… ternyata ada lho.
Warung kecil di seberang jembatan berkabut, tempat tukang-tukang bangunan sarapan menjelang terima brief mandor-mandornya.

-------

Wuaaa… ternyata nikmat lho.
Minum bajigur Betawi sambil angkat kaki ke bangku panjang, ngobrol sama tukang bangunan (sayang mereka merokok!), dan makan ketan berbungkus daun pisang. Thank to my mountain bike made in Sidoarjo

It’s only happen at 6:00 a.m

Thursday, January 26, 2006

“I got my heart here” – It’s all about my young Baristas

Tiba-tiba salah satu writer nongol di pintu.
“Mas mau ikutan makan nggak, sambil nyari kado ultah buat Tizar”
Alamaak, masih aja ada yang terlewat. Padahal ultahnya udah hampir sebulan lalu dan kami berjanji patungan untuk beli ‘something specific’ for him.
Taylor made. Personalized. Customized.

Dua bulan lalu setelah mereka sengit berkompetisi memenangkan lomba poster, senang rasanya melihat mereka pada rukun makan seafood bareng-bareng dari hadiah lombanya sambil memberikan hadiah ultah si Designer dan kelahiran anaknya Studio Artist.

Kadang mereka bertengkar ledek-ledekan, sering pula mereka saling membantu seperti saudara. Yang kakak melindungi adiknya, yang merasa adik nurut pada nasihat kakak.
Salah satu anggota team pernah bercanda : “Ya beginilah Mas kalau anaknya banyak, bentar lagi ada yang kawin. Barusan kemarin ada yang melahirkan hehehe…”

Dan kemarin saat menemukan hadiah extra ordinary (masker oksigen pasukan tempur) buat Tizar, sudah teringat lagi bahwa hari ini ada Art Director yang ultah.

Semalem sambil brain storming masih diingatkan bahwa si Art Director nggak punya baju buat datang ke pesta kawinan. Kemudian ada task force yang hunting birthday gift ke PS, menggesek kartu kreditnya tanpa pamrih.

Siang tadi semua memeluk si Art Director yang mencoba baju kerennya di depan semua orang. So sweet.

Damn guys, I love you all.

Monday, January 23, 2006

“A cup of Coffee Pride” – secangkir kopi pahit … mmmmpppffff

Seorang mahasiswa kampus mahal bertanya kepada seniornya yang sudah bekerja di sebuah advertising agency “Kak, kalau kerja di agency biaya kuliah kita bisa balik modal nggak ya?”
Si senior menjelaskan dengan panjang lebar, antara lain cerita tentang career development, glamorous business, strategic thinker, pokoknya semua yang ‘bersinar’ – yang ujung-ujungnya sebenarnya dia tidak menemukan jawaban yang eksak tentang urusan balik modal tadi. Maklum dia juga masih terbilang baru di bisnis ini.

Yang menjadikan penasaran adalah, apakah dalam conversation tadi disingggung tentang pride. Urusan kebanggaan profesi yang mungkin bisa ‘menghibur’ si yunior dan sekaligus ‘ngeles’ jawaban tentang urusan balik modal.
Bahwa sebuah profesi mengandung muatan yang namanya ‘kebanggaan’.
Bahwa sebuah pekerjaan dilakukan dengan yang namanya ‘kebanggaan’
Paling tidak si yunior terhibur oleh cerita tentang optimisme.
Akhirnya itung-itungan balik modal bisa tersamarkan oleh imaji bahwa masuk di bisnis advertising dia akan menjadi ‘the chosen one’ (wueheheheee elok tenan ki…).

Atau itunglah modal (nantinya) dengan yang namanya ‘kebanggaan’ – yang ini nasihat para pengusaha :P

Tetapi sebenarnya urusan ‘proud to my profession’ ini, seberapa banyak sih dipunyai, dan seberapa besar memotivasi?

Jika seorang AE di agency menulis brief membingungkan (baca : ini cuma misalnya!) , atau ngeset meeting tanpa tahu persis agendanya apa, atau blingsatan kalau tahu tim kreatif berhalangan presentasi (simply becoz dia nggak akan bisa jualan sendiri kecuali jualan You Know What – sejenis Lord Voldemort ‘You Know Who’), bisa kita tanya dengan mudah : ‘Apakah Anda bangga dengaan profesi Anda?’
Semoga dia akan menjawab “Ya, saya bangga” – seperti seorang yang ditanya Pendeta apakah dia siap mengikuti Perjamuan Kudus akan menjawab “Ya, saya siap” ☺

Atau tanyalah seorang Art Director yang bekerja semata-mata demi kelangsungan cicilan Honda Tigernya, “Apakah Saudara bangga dengan profesi Saudara sekarang?”
Semoga dia akan menjawab “Ya, saya sangat bangga”.
Sejuk rasanya dunia professional kita.

Masalahanya adalah kalau jawabannya :
“Bangga? Boro-boro gue bisa kerja. AE itu musti ngapain, gue juga belon ngerti”

Waaaaaa….ya pantesan dia expert nulis brief yang bikin pusing
Waaaaaa….ya pantesan dia lebih pinter jualan You Know What (apa seh?)
Waaaaaa (juga) pantesan dia jadi pengrajin layout doang
Dst…dst.

Howard Schultz sewaktu baru mulai merintis bisnis Starbukcs hingga seperti sekarang sangat bangga menjadi penyangrai kopi, simply becoz dia bisa tahu (yang orang lain tidak tahu) bahwa kualitas kopi terbaik adalah dark roasted bean yang di akan ditengarai dengan melenting tiga kali di tungku pemanasnya.

Balik modalkah?
Yang jelas Howard Schultz sekarang worldwide CEO Starbucks.
Dulunya mahasiswa juga sih….

Monday, January 16, 2006

“Tour de…javu” – Kopi Tubruk under the Klengkeng tree part II

Akhirnya diputuskan jalan darat. Why not? Lagian udah 3 tahun nggak pulang naik mobil.
Kali ini dengan perjanjian : back road (bukan back street). Harus keluar dari jalur peta umum.
Maka diservislah (bahasa apaan sih?) mobil yang biasa-biasa aja ini menjadi ruuarrr biasa – secara pengeluaran ongkos bengkel, untuk memaksimalkan kenyamanan selama 12 jam nonstop Jakarta-Yogya.

Singkat kata – karena kalau nggak disingkat lebih nggak menarik – jam 06:00 berangkat, nylonong di tol salah belok. Roh belum sepenuhnya bangun. Baru mak byaaar… setelah mampir Starbucks Take Away di tol Cikampek (yang ini maksa, di pas-pasin :P)

Sampailah Cirebon dalam 4 jam. Not bad, nothing special selain jalan terbelah karena belum selesai diaspal. Kebayang teman-teman yang kena macet mudik Lebaran kemarin.
Menjelang masuk Jawa Tengah mulai ada fenomena menarik.

Di sepanjang Cirebon-Brebes-Pekalongan-Tegal tiba-tiba terjadi perang brand.
Buat para penikmat malam di trotoar (halaaah… bilang aja lesehan) sepanjang Melawai, Pangpol, TIM atau Otista pasti akrab dengan brand ini.
Teh cap Poci dan teh Tongtji – 2 local hero saling beradu penampakan di restoran, mini market, pasar basah, warung atau contract venues yang lain. So obvious.
Nggak ada brand lain. Unilever mendadak tewas di kandang 2 pemain lokal (pabrik 2 merek ini cuma berjarak 2 km di Slawi sana). Dan lucunya di level produsen, peperangan ini berlangsung sangat santun.
Ini cerita dari salah satu Product Manager mereka.
Kalau restoran si Anu sudah dipasangi billboard (papan nama –red) Tongtji, maka produsen Poci akan bilang : “Oya sudah, ndak papa…”
Yang penting semua minum teh dari Slawi yang notabene adalah teh melati, bukan teh vanilla, teh hitam atau teh hijau. Semangatnya begitu.

Sampailah di Yogya, 12 jam nonstop nggak bisa ditawar. Padahal dulu bisa 9.5 jam sebelum yang namanya CRV, Innova, Jazz, Panther, APV, BMW, Hino, Peugeot, Lancer, Mercedez – apalagi ya, nggak penting juga - bertambah populasi.

Wisata kuliner di Yogya selalu flash back ke era kejayaan masa sekolah. Bakso babi Bethesda tempat makan awal kejahatan karena nggak pernah bayar, nasi goreng Purosani masih dengan istilah A atau B (A untuk ayam dan B untuk babi), angkringan dengan teh nasgitel (panas-legi-kentel) disruput berjam-jam sambil duduk ngangkat kaki ngobrol ngalor ngidul dengan eksotika padang rembulan. Atau gudeg depan Klenteng mengingatkan masa pacaran sehabis nonton di Permata, mie goreng Doring (di Jakarta di branding jadi “The Mie Jawa”, kemlinthi…) tempat Sultan mingle dengan rakyat. Warung mbah Wongso almarhum dengan expertise menuang ceret panas tanpa tumpah ke cangkir dengan mata terpejam karena ngantuk berat di jam 1 pagi, yang mengingatkan anak-anak senirupa dulu lebih banyak nongkrong ngegelek (70an sekali!) dari pada ngeteh. Atau jadah tempe Kaliurang yang masih menjadi the final culinary destination, padahal dulu cuma jadi alesan bolos sekolah sampai malam dan balapan motor meluncur turun sepanjang 25 km tanpa lampu hingga kampus UGM. Adu nyali yang sangat bodoh.
Semua seperti video yang di rewind dan playback ulang.

Paginya sempat ke kabupaten, lewat bekas rumah dinas bapak dulu dengan pohon mangga yang kalau berbuah sampai merunduk ke kali depan rumah. Anehnya perempatan jalan yang dulu terasa lebar banget kok sekarang sempit banget. Apa karena dulu aku masih 10 tahun dan kurus, dibanding sekarang dengan bobot 80 kg? Everything seems like shrinking. Atau karena aura J-A-K-A-R-T-A dengan jalan tol lebar yang mahal itu? Serasa berada di time tunnel.

Perjalanan balik diguyur hujan sepanjang jalan dan harus menghindar lubang-lubang di aspal yang menyakitkan buat shock absorber mobil.
Ekspektasi pertama adalah berhenti di daerah Purworejo minum legen (nira manis dari pohon kelapa) yang dijual di pinggir jalan, dituang langsung dari bumbung-bumbung besar.
Alamak, yang ada kok ya udah dikemas di botol plastik air mineral dan di display (baca ‘dimanis-manisin’ –red). Wah, turned-off, il-fil, nggak ragged, hilang karakter dan yang lebih penting… nggak eksotis lagi.

Sampailah di Bumiayu sebelum naik kearah hutan kecil menjelang Slawi.
Terjadi fenomena menarik lagi, kali ini rokok.
Semuanya Djarum Coklat atau Djarum 76 dan sedikit Gudang Garam.
No Philip Morris. Maaf, it’s local brand’s territory.
(Ini mudik apa riset sih?)

Dari Gudang garam yang sedikit itu ada yang sangat stands out.
Yaitu Gudang Garam Djaja (Jaya) dengan banner (‘spandoek’-red) hijau tua dan tagline : Djaja di Lapangan, Djaja di Kondangan.
Huahahaaaa…. Kok langsung kebayang visualnya si Sesek maniak bola itu pakai kopiah dan sarung pergi kondangan.

Sampai Jakarta…ealaah kok ya inget lagi besok musti lembur pitching.
Tahu gitu nggak usah balik….

Wednesday, January 04, 2006

"Do I deserve to face God?" - It's raining outside the window

{Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod
tempor incididunt ut --#@$%@@--labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, --XXX--quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ---#@X*&@#---ea commodo consequat. Duis aute irure dolor ---o/o/XXX/o/o--- in labore reprehenderit in voluptate velit esse ---#@#@//#@#@--- cillum dolore eu fugiat nulla pariatur. Excepteur sint occaecat ---YY#@#@??---cupidatat non proident, sunt in culpa qui officia deserunt --- <<>>--- mollit anim id est laborum. Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit, --- *&*$#@#--- sed do eiusmod tempor incididunt ut labore etdolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut ---XX#@#@#XX---aliquip ex ea commodo consequat. Duis aute irure dolor in reprehenderit in voluptate velit esse cillum dolore eu fugiat nulla pariatur.-------->Gloria in excelcis Deo}


GKI Panglima Polim, Dec 24, 2005-9:30 p.m
** picture taken from deviantart.com

Wednesday, December 07, 2005

“A little Christmas – a triple grande mocca time”



Ada sedikit ritual di rumah setiap tanggal 1 Desember.
Kami mengeluarkan pohon natal setinggi pintu dari kardusnya dan memasangnya di ruang tamu.
Hiasan pohon tadi masih terbungkus rapih di plastik-plastik ber-klip berdasarkan ukuran masing-masing.
Yang bulat satu plastik dengan yang bulat.
Yang segitiga satu wadah dengan sesama bentuknya.
Yang mudah pecah terbalut busa tipis di kotaknya.

Ini Natal kedua sejak pindah ke rumah yang sekarang.

Dan kami akan membiarkan pohon natal itu di sana sampai tanggal 2 Januari tahun depan sebelum nanti kami menyimpannya rapih kembali.

“Apa yang sebenarnya Saudara cari malam ini di sini?” begitu khotbah Pendeta di GKI Panglima Polim tengah malam Natal tahun lalu.
Ada desir dingin mengalir di dalam darah sewaktu mendengar kalimat itu.
Membersit jelas sekali dari leher ke kepala.
Aku merasa terbang melihat diriku sendiri berdiri memegang lilin, bernyanyi tanpa keluar suara apapun.
(Apa yang sebenarnya aku cari? Aku sendiri terus terang tidak tahu).

Go with the flow!
Routine ritual!
A new Armani!
It’s a celebration anyway!
(Kok rasanya bukan itu).

Sewaktu sampai bagianku menyalakan 2000an lampu di pohon natal di rumah kemarin, ada desir yang kali ini hangat mengalir perlahan dari kepala ke dada.

“Pak Pendeta, saya sudah menemukan alasan kenapa saya akan datang di malam Natal nanti”
This year, Christmas stands for togetherness.

Amen.

Tuesday, November 29, 2005

“Dining Choices” – Cup or mug? Mug.


o/o : “Table for two or four?”
x/x : “Two”
o/o : “Say again, four or two?”
x/x : “Two”
(Hmmm… romantic)

o/o : “Smoking or non smoking?”
x/x : “Smoking”
o/o : “Non smoking or smoking?”
x/x : “Smoking”
(Okay… stubborn)

o/o : “Coffee or tea?”
x/x : “Coffee. Regular Black”
o/o : “Tea or coffee?”
x/x : “Coffee”
(Shhhh… basic)

o/o : “In a mug or cup?”
x/x : “Mug”
o/o : “Excuse me, cup or mug?”
x/x : “Mug”
(Certainly… intimate)

o/o : “Red or white?”
x/x : “Are you talking about wine?”
o/o : “No. Flag. Of course wine!”
x/x : “White”
o/o : “White or red?”
x/x : “Hhhhh…white!”
(Sure … fake stylish)

o/o : “Well done or medium rare?”
x/x : “Well done”
o/o : “Medium rare or well done?”
x/x : “Med…no.”
o/o : “Well?”
x/x : “Raw !”
(Maaf, kami tidak melayani Pleki)

SFX : @##!!__++XX#@^**)%@## !!

Friday, November 25, 2005

“Decorative function” – pin it on the wall behind the coffee machine


Menariknya bekerja di advertising agency antara lain adalah eksplorasinya.
Bayangin, kita bebas dan sah mempersonifikasikan obyek-obyek mati menjadi barang hidup yang bisa bergerak, makan, minum, tertawa atau kesakitan.
Bebas memindahkan angle dan memfungsikan sesuatu untuk menjadi sesuatu yang lain.
Terserah mau kontekstual atau bebas sama sekali.
Mau menjadikannya berarti atau sekedar dekorasi, sah-sah aja.
“Yang penting komunikatip” mengutip pendapat Tizar yang Sunda pisan itu.

Pesawat telpon kalau dipersonifikan bukan lagi sekedar telpon, tetapi bisa dirasakan saat dia harus mendengar semua pembicaraan.
Printer kalau diorangkan bukan lagi kotak dengan tray yang menyodorkan kertas lembar demi lembar, tetapi sebagai kumpulan penterjemah, penulis, pewarna, pemasak yang men-deliver sebuah hasil kerja yang berwarna warni.
Mannequin bukan sekedar alat pajang, tetapi bayangkan saat dia diraba beribu kali oleh orang-orang yang tidak semuanya dia suka.
Poster bukan sekedar latar belakang sebuah ruang yang membuat penghuninya ‘feels good’, tapi mungkin poster akan memilih menjadi digital file untuk merger atau diretouch menjadi gambar lain sehingga lebih impactful.

Think-of :
Hand phone
Sunglasses
Mobil
DVD player
PowerBook G4
Wig
Tas Hermes
Levi’s 501
Jam tangan

Kalau dipersonifikasikan keinginan mereka seperti apa ya?
Nilai apa yang pengin mereka tambahkan ke pemakainya?
Atau itu terlalu predictable?
Mungkin. Karena titik singgung antara kepentingan dekoratif dan fungsional lebih cepat ketemunya

Tapi kalau dibalik, saat mereka tidak kita butuhkan kira-kira personifikasinya seperti apa ya?
Bukankah kita memakai mereka hanya kalau kita butuh?
Bisa jadi menarik sebagai eksplorasi.

Thursday, November 17, 2005

" Guru” – who have told you how to brew good coffee


Guru membukakan wawasan baru yang mencerahkan. Kadangkala begitu arif, mengejutkan atau mencambuk menyakitkan. Guru mengajarkan esensi tentang perbuatan, menyentil untuk mengisi kekurangan.

Guru A – Z sesudah “The Maha Guru” up there.

Guru A :
Pak Warino, penggarap tegalan di Pujon - Malang, yang dengan segala ketulusan menyuguhkan kopi yang disangrai sendiri dengan sepotong gula aren sewaktu aku berteduh dari basah kuyup hujan siang-siang. Ini awal pengetahuan kenapa black coffee lebih enak dengan brown sugar.
Sampai kapanpun kebeningan matanya tidak akan terlupakan, tulus. That was the best coffe, ever. I have to pay it forward.

Guru B :
Almarhum mBah Maridjan, juru kunci Gunung Merapi di desa tertinggi Kinahrejo yang mengajarkan kearifan dan keseimbangan alam sebelum kami mulai mendaki jam 11 malam.
“Nak, mangke wonten ingkang bade nedahaken mergi, sampun dipun gusah”.
(Nak, nanti akan ada yang menunjukkan jalan, jangan diusir).
Pagi-pagi buta seokor burung jalak berjingkat-jingkat di jalan setapak di depan kami.
“Nak menawi sampun dumugi Gigir Boyo, sampun ningali ngandap. Panjenengan madepo bumi”
(Nak, kalau sudah sampai Gigir Buaya –daerah paling berbahaya, terjal berbatu menjelang puncak Merapi – jangan menengok kebawah. Menghadaplah ke bumi)
Sewaktu merambat di kemiringan 60 derajat kami mencengkeram karang. Di punggung kami adalah jurang lurus ke bawah sampai kota Yogya. ‘Menghadap ke bumi’ adalah pasrah kepada pencipta alam di ketinggian sekian ribu meter.

Guru C :
Pak Imam, montir Honda yang setia kepada profesi dan tanpa setahu dia mengajarkan ‘passion’ dalam menuntaskan pekerjaannya tanpa eror apapun.

Guru D :
Pak Kamal Mustafa, film director yang mengajarkan realitas kehidupan di layar film atau dalam setting komersial. Mengajarkan detail script writing dan originalitas segala karakter manusia.

Guru E :
Pak Wiryadi, pelaku bisnis yang mengajarkan pengaruh ekonomi makro dan kaitannya secara sederhana agar otakku yang tumpul bisa memahami angka-angka.

Guru D :
Agus Arbana, associate ku yang tanpa setahu dia aku belajar memahami pluralisme antar agama.

Guru F :
Desinta Intan Larasratri, anakku yang kedua – kritikus dahsyat yang bilang “Biasa aja!” sewaktu aku tanya komentarnya tentang iklan terbaru yang aku bikin. Artinya, ada kekurangan.

Guru G :
Pak Sugiarto Sosrojoyo, ayah dari para pemilik brand Sosro yang dengan kesederhanaannya setiap pagi berjalan kaki ke pabrik, yang mentraktir sate kambing di warung sambil ngobrol sedekat itu. Yang tanpa beliau sadari mengajarkanku apa artinya integritas.

Guru H :
Mas Wahyu, marinir yang mengajariku bagaimana bertahan dalam kondisi minim.

Guru I :
Yasmin Ahmad, wanita multi talented yang mengajari esensi kemanusiaan dari segala profesi. Mengangkat kelemahan menjadi kekuatan, memahami manusia dari dan dengan talentanya.

Guru J :
Pendeta Dr. Daud Palilu yang mengajarkan untuk mendahulukan kepentingan sukma di atas kepentingan daging.

Guru K :
Linda Locke, ‘police woman’ regional ECD yang mengajarkan ‘managing creative excellence’, mencambuk, memonitor tanpa henti

Guru L :
Para mahasiswaku di Petra Surabaya, yang dengan segala kehijauannya menunjukkan pola berpikir dari angle lain yang segar. Semakin valid nasihat ayahku dulu bahwa, mengajar adalah diajar. I can see the bright side..and sight.

Guru M :
Moh. Hisam, penjaja nasi lemak dan teh tarik di Bangsar Malaysia yang dengan kebanggaan profesinya selalu menyajikan his best cuisine. Meneladani apa arti persaingan.

Guru N :
Pak Irwan (lupa2 ingat namanya meskipun berkali-kali mengunjunginya), pemilik pabrik kopi Aroma di Jalan Banceuy 51 Bandung, yang meneladani sebuah komitmen besar terhadap kualitas produk. Yang mengajak ke ruang belakang tempat beratus-ratus karung kopi disimpan dekat alat penyangrai yang tradisional. “Ini Arabica usia 8 tahun dalam penyimpanan. Nggak akan bikin kembung meskipun diminum saat perut kosong. Syaratnya airnya harus mendidih” itu nasihatnya selalu.

Guru O :
Pak Adji Baroto yang pernah memarahiku untuk disiplin dan tegas dengan keputusan sebagai manager karena keteledoranku mempertahankan kesalahan yang dibuat anak buah.

Guru P – R :
Teman-teman, sahabat dekat yang mengajarkan interaksi human being, mengingatkan banyak hal, menegur di saat kekhilafan.

Guru S - U :
Situasi, yang mengajarkan harus berbuat apa dan bagaimana.

Guru V - Z :
Anonymous teachers, yang tidak pernah menyadari bahwa aku mengaca kepada mereka, mencuri sekian genggam nilai-nilai dan berusaha menularkannya tanpa keinginan untuk disebut sebagai guru.

Monday, November 14, 2005

"Boy's Toy" - slip it in the drawer under cash register




It's a Glock
---------
An Austrian
----------
Dark
----
9 x 19 mm
---------
Bit heavy
--------
Deadly
------
Accurate
-------
Never lie
--------
Sexy
----
Scary too
--------

I love it more than
a fake love

Friday, November 11, 2005

"Cancelation" - @#XX/++><>@### .... !!!

Senin depan ini harusnya ke Singapore ikut Beyond Summit 2005, 2 hari berikutnya.
Kapan lagi bisa datang ke forum seperti itu.
Gerombolan kelas berat forum internasional bicara.
Agenda sudah disusun, kapan harus di mana.
Musti ketemu dan nemuin siapa.
Nginep dimana, fine dinner dimana.
(sama siapa?)

Networking. Networking. Networking.

Pengin tahu perspektif Bob Isherwood - Worldwide CD Saatchi&Saatchi di hari kedua.
"World Changing Ideas"
Habis itu pulang juga nggak apa-apa.

Tiba-tiba blaaar.
Kesalahan arrangement yang bikin males banget jadinya.
Dan mules luar biasa.
Inget Creative Secretary dulu yang gesit luar biasa.
Suruh arrange ke Nepal naik Aeroflot juga ayo dan beres.
Inget budget support dulu yang mengalir deras
dengan kesadaran penuh bahwa people development adalah prioritas utama.

Ah sudahlah.
Bob Isherwood masih bisa diakses dari laptop
Ketemu Yasmin dan Guan Hin masih bisa via email atau sms.
Kim Walker masih bisa ditelpon, toh minggu depannya lagi datang ke Jakarta
(ketemu siapa lagi? mundur...mundur...mundur)

---------------------
The Works explodes a myth.
The myth that the work that wins creative awards is not work that works in the market place.
The Works is a crossroads where the subjective opinions of awards juries meet the objective facts of
sales figures and attitude shifts.

Which means it’s where creative ads are proved to be more effective than dull and boring ones.

Getting to this point is hugely satisfying. In fact, it’s the only direction worth taking.”

Bob Isherwood. Worldwide Creative Director Saatchi&Saatchi.

Monday, October 31, 2005

“Wrong choice” – don’t take espresso if you got digestive problem

Tizar – anak Bandung, pertama join grup ini adalah malem minggu.
Salah dia sendiri nimbrung brain storming di Starbucks Kemang.
Sewaktu order di counter dia bingung, sampai akhirnya : “Espresso !”
Tizar membayar dan menunggu.
Menunggu dan : “Kopi saya mana? “
Barista menunjuk cangkir kecil ekstrak kopinya.
Dia pikir yang namanya espresso sama dengan kopi-kopi yang dingin, manis dan pakai gelas plastik besar-besar.
Lhah kok ini cangkirnya kecil udah gitu pahit lagi.
Tizar naik ke atas dan menceritakan kejadian di bawah.
Semua ketawa ngakak!
Tizar tersipu ‘heuheuheu’ terus menyalakan rokoknya di luar.

Merokok.

Kenapa sih harus merokok?
Kopi masih punya benefit positif, lah rokok?
1. Biar cool?
(Cool ada di aura, bukan di rokok. Emang coolness bisa direkayasa?)
2. Biar relieve.
(Rokok menambah racun. Menimbun racun di tubuh kok relieve. Mengecoh)
3. Biar macho.
(Alamak, iklan lagi. Dosa terbesar iklan bukan karena menipu, tapi merekayasa logika orang menjadi pembenaran).
4. Ice breaker, biar ngggak ansos.
(Ini lagi. Say hello atau joke jauh lebih sehat untuk ice breaking. It's proven!)
5. Biar nggak lonely.
(Sok mellow! Emang nggak tahu kalau ada yang namanya komunitas hobi, friendster, blogspot? Please deh)
6. Habis makan boleh dong ngerokok?
(Habis makan ya minum biar nggak keselek. Heran)
7. Emang kenapa kalau gue ngerokok, hah?
(Nah ini!! itulah kenapa PSA mengenai rokok harus knocking emotion rather than talking to the eyes. Ya karena kebebalan semacam ini).
8. Duit-duit gue sendiri. Emang lu ngasih?
(Ada yang namanya bank. Kalau duit ditabung di sana pasti bisa beli mobil Mini Cooper, cobain deh. Kriuk!)
9. Pokoknya gue ngerokok. Titikl!
(………………..)
10. Kok diem? Ngerokok itu pilihan gue tau?!
(Wrong choice. Sigh!)

------------------

o/o : Tizar ! Sini Zar !
x/x : Kenapa gitu?
o/o : Main airsoft gun yuk, tak tembak endasmu
x/x : Saya nggak bisa mati euy..
o/o : Kalau gitu ngerokoklah lagi. Yah?
x/x : Tapi saya pengin main tembak-tembakan
o/o : Udah malem

(SFX : #@//++xx&**^@>><<##@#@...!!!!)

Wednesday, October 26, 2005

“Weird contradiction” – Starbucks is green, not red. Damn it!

Almarhum Leo Burnett dalam kumpulan ‘100 Wisdoms’ agak di bagian belakang menulis sub judul: When you have take my name off the door.
Isinya wise banget.
“Saat kreatifitas diperdaya oleh kerakusan bisnis, dan saat ide-ide besar dilecehkan oleh kepentingan uang, saat itulah kalian boleh mencopot namaku dan mengggantinya dengan nama siapapun sekehendakmu”
(eh itu improvisasi terjemahan dalam pencernaanku sendiri).

Lihatlah betapa yang namanya kreatifitas begitu dimuliakan karena kesadaran penuh bahwa advertising adalah bisnis kreatif.

Lalu,
Dua tahun lalu seorang Chief Executive Officer network lain berpidato yang penuh dengan basis angka-angka di auditorium yang stereo.
“… doesn’t really matter whether you are a black cat or white cat, as long as you can catch a mouse”.
Blaaaaar !

Dunia memang penuh warna berbeda, bukan sekedar yellow, black, cyan dan magenta.
Doktrin yang kontras tadi mengagetkan semua orang dengan mulut ternganga.

Hei mister…
Saya men-develope orang untuk menjadi ninja yang penuh kejutan senjata rahasia, bukan menjadi kucing garong yang gampang masuk angin terkena hujan.
Dan saya … tidak memerlukan nama.
(kecuali di STNK).

Thursday, October 20, 2005

“Honest Tumbnails” – crumple napkin on table 3

(fresh air between consecutive meeting – with and without ‘s’)

Fyuuh…
Akhirnya sedikit bisa bernafas setelah dari jam 9 meeting marathon, diskusi marathon, debat marathon.
Dan oase itu bernama Starbucks dengan frappuccino dingin nyaris beku di ruang tanpa asap rokok yang melegakan.
Dua Barista dengan cekatan melayani di depan coffee machine dalam gerakan seperti terencana, layaknya sebuah koreografi.
(It’s nice to have this kind of intercut shot).

Refresh memory.
Mencoba mengingat apa sih yang sebenarnya menjadi masalah dari meeting-meeting tadi. Jangan-jangan hanya ‘for the sake of talking’ terus berpura-pura pada berdebat dan mencari masalah baru dari masalah yang sebenarnya sudah pecah.

Blocknote tanpa garis setebal 1 rim HVS bikinan sendiri (di binding di Subur dengan cover favorit : Babi) dibuka-buka, siapa tau ada catatan penting.
Di depan ada gambar ikan piranha… ah itu digambar waktu aku bosan mendengar pitutur seorang Dirut yang ngalor ngidul. Dirut kok nggak focus. Biar dimakan piranha saja!
Lalu ada lagi gambar telor mata sapi, ah kayaknya itu sarapan pagi waktu itu. Oh bukan, ternyata logo studionya Eggi.
Ada 2 kata digaris bawah: ‘The lost boy’ dan ‘Railman’ ah aku inget itu waktu mau mulai nulis skrip TVC ‘Mudik’ sambil nunggu klien di ruang tamu.
Tunggu, ini apa nih?
“Value for money. Bawal ganja”
ini dia, pasti rumah makan di Warung Buncit.

Semua seperti flashback.
Coretan naïf gambar bekicot, pompa bensin, garis tangan, gerimis dari mega, kepala tikus, anjing robot, klien bermulut kotak, tangan pegang tangan, sekrup, piranha makan sepatu, piranha makan mikropon, piranha makan becak, mobil bertanduk, kucing mata satu, paha ayam, muka klien, storyboard ngaco, muka jepang goblok, terracotta warior, VW beroda segitiga, voodoo, sampai klien digebuk gada berpaku.
Every single picture talks, paling tidak untuk saat itu.

Yang non visual juga ada (copy based?) selain bullet points catatan penting seperti meeting tadi, misalnya ini:
‘… yang bikin lagi moody sih’ – ini waktu klien mengkritik kenapa storylinenya jadi mellow. Waktu itu meetingnya sama AE favorit.
‘Orang ini nggak punya prinsip’ – waktu klien begitu gampang berubah pikiran.
‘Don’t be long. I am yours tonite’ – hah, apa ini? Oh dialog di tvc yang kena cekal TPI.
‘Pak Anu sepatunya pantofel 60an skale! (di bawahnya tulisan yang dioret-oret)’ – ini ulah teman sebelah.
‘www.uh-oh.com’ – ini pasti nyasar!
‘Terlalu banyak kroco mumet’ – itu meeting 2 bulan lalu.
Dan lain-lain.

Nggak kebayang kalau coretan-coretan seperti itu dikonfrontir dengan coretan sejenis di blocknote lawan meeting. Jadi pengin tahu.
Suka nggak suka, bener nggak bener, sopan nggak sopan, seringkali ekspresi spontan seperti itu jujur adanya.

Friday, October 14, 2005

“Asian way” – cappuccino with deeper sight

Siri Budhamate namanya.
Art director muda yang kesepian di tengah keriuhan meeting para bule high profile.
Bicara keras, tertawa keras. Agak rasis.
Semacam camp.
Atau fighting club bentuk lain.
Diadu kelompok, semacam kumite tapi beregu.
‘Break-out session’ per delapan berdasar assignment sheet masing-masing.

Kontras.
Kelompok bule sangat ekspresif dengan ‘strategic thinking discussion’, berlembar kertas lebar-lebar, papan tulis penuh coretan.
Dan bahasa tubuh penuh keyakinan.
Bicara keras, tertawa keras.
(Pura-pura berpikir keras)

Kelompok Asia.
Menepi ke pinggir kolam, berteduh di bawah kanopi, bersandar di kursi atau
bahkan duduk di akar pohon besar.
Berdelapan. Siri budhamate ada di sana.
Bule minum bir, Asian minum (lagi-lagi) kopi,
berselonjor menghadapi ‘tugas’ kampanye merek sepeda motor buat India.

Lima belas menit pertama, menunggu kopi datang.
Dua puluh menit kemudian berbagi cerita.
Sepuluh menit ke depan ngobrol ngalor-ngidul lagi.
(Otak saling merekam karena malas pakai kertas)
Sepuluh menit kemudian…ngopi lagi.
Lima menit terakhir saling diam.

Siri Budhamate giliran ke enam.
Selalu seudah kelompok bule, di hari menjelang sore.
Siri Budhamate tidak fasih bicara Inggris.
“Motorcycle is not a transportation” katanya.
“We see beyond product.
It’s just the way we value the product. Emotionally”
Bahasanya semakin lancar sebelum cerita dengan intonasi total.
Tanpa gambar, tanpa flipchart, tanpa storyboard.

Tepuk tangan gemuruh.
Bule tersipu

That’s the way we work. Just talk.
True.
Connecting heads.

Thursday, October 13, 2005

"Invisible Dream Catcher" - sipping on the run

Tuesday, October 11, 2005

“Timing” – when it gets cold, brew a new one

Time management is like driving a car.
Doesn’t really matter you going fast or slow.
You hands on steering wheel
You press the clutch and gas pedal to accelerate
You break when you see the light turns to red
You give a sign when you have to turn
Doesn’t really matter you go left or right
You honk when you see something gets in your way
You entertain yourself by starring at a girl or guy
Or sneak the back thru side mirrors
You keep on the road with your eyes open

All you do in the same time.

So why did you complain to a deadline?
Have you manage your day properly?
Hours to minutes, minutes to seconds

Time management is a pretty game
To serve everybody happy

(Serve? Sounds like ‘slave’)

Monday, October 10, 2005

“Day off menu” – a canopy and table for two

Cuti 2 hari.
RENCANANYA ADALAH :
Bangun siangan dikit, ngulet, baca Koran, brewing kopi Arabica dari Jl.Banceuy, nonton Ian Wright atau Thristy Traveller di Travel and Living atau main PlayStation.
Siang dikit rencananya (rencananya nih!) masuk dapur pakai celemek Ikea (sak karepmu!) motongin 300 gr haas dalam yang sudah dibungkus daun pepaya semalam (biar em….puk. Yak tul).
Direndam ke dalam campuran 2 sdm saus pedas Delmonte, ½ sdt oregano, 1 sdt mustard, 1 sdm kecap manis, 2 sdm kecap Inggris, ½ sdt lada bubuk hitam dan ½ sdt garam.

(Dah gitu sambil nunggu : geprak bawang putih dengan pisau besar, campur dengan irisan cabe merah. Sebagai pengganti kecap, tuangkan minyak wijen ke dalam wajan Wok with Yan. Masukkan irisan kecil2 ham atau..okelah sosis. Masukkan nasi diaduk-aduk, taburi secuil Maggi blok dan garam. Masukkan green peas –my fav- dan tambahkan saus ikan sedikit. Angkat ke piring datar dengan lembaran lettuce. Tambah salad serutan zuccini yang dikucuri lemon dan minyak zaitu. Berani taruhan, nggak akan kalah dengan nasi goring Warung Made).

Percuma pakai celemek kalau nggak tuntas.
Tusuk daging yang sudah direndam pakai skewer logam. Diselang-seling dengan paprika hujai/kuning/merah (art based sih!) dan bawang bombai.
Sebagai final touch, siramkan sedikit red wine sebelum dipanggang di atas charcoal panas. Olesi shashlik tadi dengan mentega sambil dipanggang. Well done atau medium rare? Ggrrrrrrrrrrh…..!

YANG TERJADI ADALAH :
Jam 6:15 blingsatan ke tol ngederek mobil yang koplingnya jebol, moles wastafel yang mulai pudar, setengah hari mainan bor Black&Decker masangin handle kabinet dapur (asyik juga sih mainan bor), beli pupuk dari Trubus, menyelamatkan sikas yang menguning (oh no! don’t dry).
Beda banget dari rencana.

YANG ARTINYA :
(kalimat ini didapat waktu nungguin dengan tulus Ipang wahid yang lagi Jumatan sesudah syuting “Ketulusan”).
Betapa susahnya mencari waktu buat diri sendiri (hmmm…jadi inget kalimat itu).

YANG UNTUNGNYA :
Mengingatkan pada tagline print campaign minuman beralkohol : “Thank God, everyday ended with evening”)

YANG MAKSUDNYA :
Tutup pintu, nonton ulang 4 filmnya Night Shyamalan + dry martini dikit (dan nggak penting)

“Quotes of the colony” – a coffee break

Alejandro Lopez (during a toilet break) : “You look great” (am I?)
Alex Lim (with noodle bowl) : “I am trying not to”
Chan Lee Shon (in the rush) : “Nothing changed lah”
Bhanu Inkawat (end of session) : “Look at this. Jakarta’s works” (heart beat)
Andrew Bell (Taj Mahal Hotel-Mumbai) : “Lick.Lick.Lick.Peanut.Peanut” (oh my God)
Shapoor Batliwala (between his whistle) : “Hello my friend”
Donald Gunn (sipping espresso) : “Yess, we’re in the same family”
Berndt Soderbom (at any time) : “Work smart. Not work hard”
Nick Souter (with typical expression) : “Too many craps!”
Jane Fraser (queues for a cab) : “Yippiee…”
Truddi Harris (on the phone) : “No dress code. You’re creative person. Be free”
Tay Guan Hin (taking salad) : “Did you sent lot of entries?” (Oh nooo…)
Agnello Dias (with ton of prints) : “How’s Jakarta look like?”
Richard Irvine (sat in the back row) : “Nothing special, right?”
Thomas Shultze (bir competition) : “I am in the pole position”
Michael Conrad (call from Frankfurt) : “Hi G, still remember me?/
Who is this?/I am Michael/Sorry, which Michael?/Michael Conrad/
Of course I do (how fool I am)
Akira Kagami (breakfast) : “Very hard to do car commercial”
Jimmi Lam (coctail party) : “I kicked your partner’s ass to move”
Ishibashi (handshakes) : "Congratulations"
Linda Locke (slips between the lane) : “I smell a problem between you and your MD.
Let’s talk. Breakfast at 07:00”
Yasmin Ahmad (with her bitchy look) : “Wis mangan Mas?” (Durung!)

Tuesday, October 04, 2005

“Juniority” – learn first how to boil water, please.

Seorang AE mendadak terserang huru-hara menghambur ke kompartemen art director dan writer partnernya sambil membawa selembar lay out yang dia coret-coret sendiri.
“Gini ya, ini revisi minta sore ini karena klien gue mau ke luar kota”

(Pasangan art director dan writer menengok ke arahnya sebentar untuk sekedar menghargai eksistensi phisiknya, kemudian kembali asyik diskusi berhadapan).
“Yunior!” bisik mereka berdua serentak.

Lima menit kemudian mereka sudah di depan seniornya.
Entah meratapi nasib atau berencana menggampar AE tadi.
“Sejak kapan dia punya klien? Klien gue, klien gue!”
Gerutu.
Gerundel.
Mengadu.

--------

Menjelang memilih tempat duduk di ruang meeting, AE tadi dengan full of hospitality memperkenalkan teamnya kepada para klien.
“Ini Kampret art director saya, ini Curut copywriter saya, dan itu atasannya, CD saya (namanya nggak perlu disebut)”.
CD yang ikut meeting tadi akhirnya confirmed bahwa AE tadi memang minta digampar.
“Sejak kapan gue kerja buat dia?”
“Yunior!” bisik art director dan writer serempak.

Adalah Wayne Lotherington, seorang Regional Training Director yang pada suatu training session menyetujui pengharaman penyebutan, pengistilahan, pengakuan : “my client, my CD, my art director, my writer, my producer…dst”.

“Advertising is purely teamwork. No Hero”
(apalagi Carrefour).
“Garing!”
“Yunior!”

Friday, September 30, 2005

“Petrol hunt” – liquid problem, huh!

Awalnya sih nggak peduli dengan deretan panjang, kecuali gerundelan karena jadi kena imbas macetnya.
Murah, mahal, promo, diskon toh nantinya tetep juga beli. Ngapain musti antre? Heran.
Kenapa ya nggak konsentrasi bagaimana meningkatkan income?
(Ah, sok tau! Mengelola uang saku aja kedodoran terus kok ngomong income).

Eh, ini tanggal berapa ya?
Tuh kan bener udah gajian.
Trus nyoba-nyoba ngitung yang namanya ‘Petrol Spending’.
Overhead bulanan. Cashflow. Puuihhh… keren.
Ah masih aman.
(Meskipun nggak pernah tau sebenernya digaji berapa tiap bulan)

Jam 11:16 masih asyik ngerjain ini itu.
Ntar aja beli bensinnya kalau udah tengah malam.
Kan udah sepi kan nggak kayak tadi jalan masuk Bintaro kayak jalur mudik Pantura macetnya.

Jadilah jam 00:12 keluar. Whuush…
Anjrit! Baru inget kalau pompa bensin dekat rumah tidak buka 24 jam.
Emangnya Circle K?
Tiga yang lain udah gelap, tanki kurang dari ¼.
Bentar lagi merah.
Road show ! Toll to toll.

Jreng-jreeeeeenngggg.....!
Tangerang bersinar!
(baca : Tenjerenk)
Jauh beneeer.
Dan panjaaaangggg… sampai jam 2:15

Ignorance mahal harganya.
Jancuk.

"Bored" - Shop closed

TWO...
(Di film-film kalau udah tinggal 1.5 second biasanya nggak jadi)

Wednesday, September 28, 2005

"Bored" - Shop closed

SEVEN....

"Bored" - Shop closed

NINE.....

"Bored" - Shop closed

This is count down.
I am going to close this blog.
Got bored.

TEN…

Monday, September 26, 2005

“Gun and ammo” – nothing to do with coffee

o/o : Smith & Wesson got perfect grip
x/x : No. I prefer Beretta
o/o : Hhh.. It protects America
xx/ : You don’t like it huh?
o/o : Sorry...
xx/ : Take mine, an Austrian made
o/o : A Glock? Lovely. Just like you.
x/x : Mulder used it
o/o : It’s okay …
x/x : I’ll aim on the heart
o/o : Don’t. Aim forehead
xx/ : Accurately. Between the eyes
o/o : Heeh… strike cerebrum
x/x : Loudly?
o/o : No. Use silencer
x/x : Cold dead huh… very you.

Let’s fire!

Thursday, September 15, 2005

“An Ancient wisdom” – black Arabica after free lunch

A Swedish Managing Director asked me the other day.
:/: What is your opinion about leadership?

Whooops! Blaar! Whaat? In this creative business?
It’s not an easy question, at all

x/x Leadership is kind of situation.
When you’re in front, you have to be a shield (it’s like a car’s bumper too) for your troops.
When you’re in the middle, you have to be able to spread your creative aura to them.
When you’re in the back, you have to kick their butts to move on.

(Then quiet. He looked at me for about 5 minutes. Quite long for man to man situation)

:/: How do you find it?
x/x That’s what I am doing
:/: I meant, how do you know?
x/x My father told me. It’s a Javanese ancient wisdom

(Then quiet again. He looked at me for about 2 minutes. Quite costly for a commercial’s duration)

:/: Can I see your father?
x/x He’s died 5 years back, right before you promoted me as a CD

(Then he bought me lunch. Not bad at all)

Tuesday, September 13, 2005

“Presentation bloopers” – flies on cappuccino cup

One ::
There was an important pitch presentation.
Never got enough sleep as normal, ‘til morning when we ready for the big show.
Then this things happened.
Surrounded by 20 people from the client side, we couldn’t manage to set our laptop on for 15 minutes.
It was Toshiba, I recall.
Instant decision to transfer data to my PowerBook (I love Mac) was taken. Everything seemed so smooth but our heartbeats.
My turn arrived toward the end. Nothing impressive at all as everything stolen badly up front. I tried hard to recover. Joke didn’t turn out as a joke. Ice breaker seemed useless.

And here is the big moment.
A coffee guy shown up with full of hospitality, no doubt! Everyone got their tea or coffee cup.
Then he walked straight to me whilst I spread out total blast of my presentation’s aura.
He completely stopped my show.
“Pak, mau teh apa kopi?”
Goosh! Everybody laughed.
I was totally mute.

Two ::
That was an afternoon when Sesek came to my office cubical.
# “Finally I manage to sell my car, someone will come here to see and pay today”
He said so enthusiastic.
God blessed him – at least that’s what I thought.

Two hours later.
## “What happened?”
# “Everything agreed, and so was the money”
## “And…?”
# “I couldn’t start the engine! Damn it!”
## “And…?”
# “What and? I just said, it’s never happened before! Then he’s gone”

“Flash back a bit” – a broken cup

Sabtu kemarin pulang ke Yogya, berdua Ginta saja.
Salah satu ritual lama selain ziarah adalah ke rumah Benny.
Benny teman nakal semasa SMA,
Teman setia yang selalu menjemput ke gereja.
Petarung handal yang nyaris menjebolkan perutku sewaktu kumite dulu
Namun juga rival yang gampang aku taklukkan di sirkuit lumpur
sewaktu demam motocross waktu itu.
“Pakailah Yamaha. Bukan Suzuki !”
Masa kuliah mencopot traffic light
Memasangnya di kamar kos.
“Waaooow…terang sekali”
Kami telungkup di lantai memandangnya seperti pohon Natal.

Sabtu kemarin di beranda rumah Benny
“Kapan Benny pulang?”
“………… Benny nggak pulang lagi”
“Kenapa?”
“Benny meninggal mendadak 3 tahun lalu”

Benny merokok 2 pak sehari
(Please don’t smoke, everybody)
Aku pulang dalam diam.
Ginta kecewa batal ketemu Oom nya yang menggendongnya semasa bayi di Bethesda.

---------

Malioboro masih tetap sama
tapi masih sangat beda dengan kebiasaan lama
Bram, hilir mudik dengan jaket Korea dan botol vodka di saku dalamnya
Bram penakluk gunung
Menggigil bersama di 6 puncak setiap akhir pekan
Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, Semeru dan Lawu
Memberiku roti saat kelaparan jam 5 pagi
Matahari merah di cakrawala
Kami sangat kecil di bibir tebing

Lalu,
Bram dikabarkan gila, dalam arti sebenarnya
Entah depresi apa yang begitu kuat menghajarnya

Perjalanan akhir pekan sama sekali tak punya warna

Friday, September 09, 2005

“Underground voice” – you must try kopi tubruk at 6:30 Ambarawa Time

Subhead :
The Warung under the Klengkeng tree

Kebiasaan pagi yang tidak ingin aku hilangkan sewaktu jalanan sudah mulai menunjukan gejala kemacetan adalah mengamati ekspresi arus bawah.
Kalau sudah begini biasanya Sesek atau Jito kirim SMS –aku yakin dia sedang dalam situasi sama.
o/o : Ada Metromini tulisannya ‘Ayu Adine’
+/+ :Itu penyesalan
o/o : Mungkin keterpaksaan
Bisa jadi keterbatasan pilihan pada desakan situasi tertentu. Ayu Adine (Adiknya lebih cantik) lebih menyiratkan ekspresi bernada getir bukan?
Ada nada keterlanjuran.
Tapi tunggu dulu, siapa tahu itu sebuah action plan.
Sebuah misi memilih yang segera dilancarkan
Call to action? Who knows.

Satu pagi Jito excited mengirim SMS.
x/x : Aku lihat mobil bak terbuka, di kacanya ada tulisan gede ‘Mendem Wedokan’ (bhs Jawa : mabuk perempuan).
+/+ : Aku pernah lihat itu di Tangerang
x/x : Aku lihatnya di Pancoran. Warnanya biru kumuh kan?
Oh berarti dia sangat mobile.

Setiap pagi kami mencatatkan rekor pengamatan kepada GSM Provider masing-masing. Semacam brand experience, gituh…
Dan masing-masing saling berkompetisi terhadap level kualitas ekspresi arus bawah tadi.
Semakin lucu semakin tinggi score-nya.
Gentlemen’s agreement yang secara tidak sengaja telah terbentuk.

Kadang-kadang ada juga yang nggak lucu meskipun jalan macet 2 jam dari rumah ke kantor. Misalnya pernah begini (ini true story lho).
Saking desperate nya nggak ada –istilah kami, copy lucu- pernah aku pancing Sesek :
+/+ : Ada mobil Zebra berhenti, belakangnya terbuka. Ada tulisan ‘Jual Nasi Gudeg’. Maksudnya apa ya?
Ini jelas nggak lucu. Terbukti Sesek dalam 20 menit nggak merespons sama sekali. Malah ngajak plesetan jorok.
Ini sebuah indikasi persoalan yang tidak punya potensi untuk membangkitkan masalah. Huh, useless.

Pagi lain, di Cawang (aku lupa mau kemana pagi-pagi lewat jalur Cawang yang tidak biasanya. Aah ya…keluar dari rutinitas!) aku lihat “The Best Underground Voice Ever” di Kopaja. Tulisannya kuning (Yellow 100, Magenta 15) ditempel di kaca belakang, bunyinya : ‘Istrimu bekas pacarku’
Sumpah. Siapapun yang menulis itu berhak mendapat Golden Trophy Human Insight Asia Pacific. Apa seeeh…?
Seketika aku SMS sepuluhan teman yang punya level sensitivitas humor yang sama : Arbana (copy base yang ngelayout), Fachry (tukang servis klien) , Pungki (pebisnis barang pelabuhan), Ipang (Mohawk yang minumnya susu), Nina (fans dari Edwidge Fenech), Sesek (muka Nicolas Cage hati Tommy Page), Farika (Vivid Entertainment), Jito (Children of God), Joko HP (anggota DPR), Budiman (pengusaha), Mas Anton (pengusaha), Mas Nungki (pengusaha), Surya (pengusaha), Andi Sadha (pengusaha) dan sebangsanya. Trus aku apa dong?
Reaksinya lucu-lucu, pol.
Yang garing pasti ada lah, bawaan lahir.
Nina yang paling ancur.

Ada juga yang mengundang reaksi lucu hanya pada kelompok tertentu. Segmented, kata para praktisi periklanan. Ndasmu !
Alasannya masalah bahasa. Kasusnya mirip iklan Baygon berbahasa Inggris yang dimuat di majalah Ayah Bunda.
Mau dikirim ke award forum yaaaaa….hayo ngaku.

Kejadiannya siang sehabis makan bareng di Sumpit (nggak penting!) dengan Budiman Hkm. Di lampu merah ada Kopaja berhenti dan mobilku (yang musiknya pilihan itu) berhenti tepat di belakangnya.
Ada stiker di kaca belakang. Fontnya Baskervillle Semi Bold warna merah (Pantone 135).
Ada sederet kalimat yang berbunyi : ‘Lali jenenge. Kelingan rasane’
Sewaktu aku SMS ke Jito dan Sesek, mereka terbahak-bahak. Tapi waktu aku kirim ke Budiman, eh malah nanya “Apaan tuh?”
Heuh, payah.
Bukankah bahasa Jawa adalah kunci sastra dunia dan titik tolak copywriting modern? Bukan ya? Oh itu mie Jawa.

Tapi ada juga ekspresi yang gloomy lho.
Pagi-pagi (jam 9.56 masih pagi kan?) aku belok di lampu merah Simprug Mobil yang menjual sederet VW Beetle dan VW Golf (kata Pungki VW Golf harganya 300 jt. Asu, nggak penting banget ditulis). Persis di samping The Pakubuwono ada gerobak pemulung yang ditarik pemiliknya. Pelan dan terbungkuk-bungkuk.
Lebar gerobak yang hampir tiga perempat badan mobil membuat para pengendara di jalan itu memperlambat kendaraannya.
Tidak ada yang istimewa pada gerobaknya. Kayu kaso segi empat dengan roda yang bannya selalu kempes dan seng abu-abu kumuh.
Tapi lihatlah apa yang ditulis di bagian belakang :
‘Nitip rindu buat Ayah. Di sini malu bertemu”

Aku coba pancing reaksi Sesek, kira-kira maksudnya apa. Dia mencoba melucu, tapi kok jadi nggak lucu.
Statement yang ditulis oleh seorang pemulung yang tidak pernah mengerti apa itu copywriting, headline, slogan, caption, lead-in copy, yang menimbulkan efek ‘Blaaaarrrr!’

Lucu atau mellow (juice mellow), suara-suara Kelompok Rawa (istilah lain untuk arus bawah) seperti itu ‘di posting’ dengan spontan, honest, satire, ironis dan seringkali telanjang.

Dengarlah suara arus bawah. Insightful dan penuh warna.
Nongkrong menghirup kopi tubruk di warung bawah pohon tidak kalah nikmatnya dengan Illy Coffee kafe-kafe di Bangsar Petaling Jaya sana.
(Bangsar lu…)

Hahahaha…
(sesuai kesepakatan dengan Budiman, ‘Hahahaha…’ adalah gentlemen’s agreement untuk mengakhiri pembicaraan SMS)

Thursday, September 08, 2005

“Craftsmanship hahaha….” – got coffee maker at home?

Here is the detail :
Two spoonful of 8 years old Arabica, 100 degrees boiled water, brown sugar in a ceramic cup. Never drink coffee from the glass! Never, you won’t get the essence. And…don’t share with anyone else. Coffee is a selfish intimate moment. Jealous?

Jealousy is such a big thing. Why?
Nggak percaya? Lihat aja : Creative Guilt of The Philipines, Singapore Creative Circle, Malaysian Kancil Award, MC2. Masih kurang?
Suthisak, David Guerrero, Thay Guan Hin, Andy Greenaway, Chukiat Sarunsouk, Graham Kelly, Jureeporn Thaidumrong, Tham Khai Meng…., you name it.

No, no…! I won’t compare them here. Don’t worry.
Rileks aja, duduk manis, enjoy the show. Mau di sofa? Atau pengin kemana? Pattaya? Hong Kong? Kuala Lumpur? (Florida kemahalan ‘kali ya…dan apalah yang menarik dari Amerika, anyway).
Tinggal bilang sekretaris untuk booking kamar hotel. Ah, ambillah paket tur ke Asia Pacific Adfest, bukankah Adfest menurut biro perjalanan lokal dijual sebagai obyek turis?
Tourist destination. Mmmmpppffft…!!
Naaaah… jangan lupa stay over night di KL sewaktu balik. Toh ada semalam gratis untuk dinikmati. Vincci, MAC, Birkenstock, Mango, Salak Pondoh ooops…. Kapan lagi?
Mumpung pesiar (pesiar??) ke Adfest. Dibayar kantor lagi.

Watching is such a shame thing. What’s wrong?
Dua tahun lalu aku pernah bilang ke beberapa orang di koloni eksklusif - sebut sajalah Crat-cret Circle Indonesia (bagusan Cret atau Crut? Pokoknya pakai ‘C’). Sambil duduk di pojok minum bir dingin sebelum penyakit lambung kambuh.
Hari itu aku bilang bahwa craftsmanship adalah makhluk yang menyeret kita jauh ke bawah garis kepantasan.
Tidak seorangpun yang merespon waktu itu.
Should I care?

Sampai pada suatu hari pertengahan bulan Maret di sebuah gala dinner Adfest tahun berikutnya –round table dinner, salmon and wine and bisik-bisik- terdengar entah kutukan entah gerundelan, tapi cukup vokal disela-sela wara-wiri orang yang naik turun stage.
Begini bunyinya :
“Manaaa iklan kreatif dari Indonesia? Malu-maluin, kita di bawah Thailand dan nggak bisa ngelawan Malaysia. Lu bikin dong!”
(SFX : Gludug! Sikut menyenggol sikut).

Terus terang aku setengah kasihan dan setengah nggak peduli dengan ucapan tokoh kita tadi.
Kasihan karena orang tadi buang waktu dan 500 USD (plus tiket plus 4500 baht wisata malam?) untuk datang ke event tersebut - mendingan buat belajar bikin layout di rumah.
Tidak peduli, karena sosoknya memang nggak penting untuk didengarkan. Lagian kenapa dia nyuruh bikin? Lah kenapa nggak bikin sendiri?

Aku juga tidak berharap banyak sewaktu ngomong bahwa craftsmanship begitu pentingnya di forum koloni Crat-cret Circle Indonesia dulu.
Cuma waktu itu terdengar : “ Yaa tapi kan ide lebih blahblahblahblah
blahblahblahblah………. Yadiyadiyadiyadiyadiyadiya….nguengnguenggggggggggeeeeerrrrrrr”
(SFX : suara tawon).
Ya sudahlah.

An ad consists of idea.
It’s a must. It’s given.
It’s a masturbate if there’re any excuses by slipping blank idea into a beautiful picture.
It’s a damn fool.
(eh…. damn atau fucking ya?)

Nggggguuuenguengppppppzzzzzzzz….
SFX : tawon fade out
Semua sepakat bahwa dalam hal ide kita tidak kalah dengan mereka.
Apalagi dibanding bule-bule itu !!
Heuh.
Gagah sekali.

Jadi, kenapa masih mempermasalahkan ide?
Iklan yang nggak punya ide, ya cuma pengumuman.
(Kok lama-lama bahasanya kayak Budiman Hakim ya? Buku ‘Lanturan di jalur Pantura’ itu kan basic banget! Bagusan juga bahasa pengantar di halaman XXV. Narsis !)

…..jreng jreeeeeng!

Yang jadi permasalahan adalah, iklan yang idenya kuat tetapi tidak dieksekusi dengan baik. Terjadinya mungkin karena ide didewakan sedemikian rupa dan presentasinya dibiarkan berlepotan sedemikian rupa.
(Aku menulis ini di atas PowerBook G4-12 inch yang jarak antar huruf di keypad-nya tidak pernah aku percayai. Karena aku peduli dengan kerning dan spacing. Tapi kalau aku bahas ini pasti sampai ke never ending polemik antara art director dan copywriter lagi... Bodo amat!)

Yang terhormat kaum peng-ide, berapa persenkah anda peduli kerning, spacing, cropping, lighting, compositing, font sizing, retouching, copy editing, art directing dan segala ‘ing’ lain kecuali petting…and many other things?

Logo yang ngejedor gede banget, atau photo yang pucat, font yang 16 macam dipakai semua.
Ah, nggak stylish.
Dan celakanya mereka (yang naik turun panggung tadi) peduli lho! Anjing!

Inget gambar anjing dan tikus yang muntah-muntah di print ad ABC Cooking School?
Coba deh dilihat. Don’t even think that is an ad, at your first glance.
Just connect the picture and the wording “ABC Cooking School”
Got the idea of it?
Kalau nggak tau mungkin memang harus disekolahin lagi. Bukan cooking school tapi penjara, heuheuheuheu …

At your second blink, let see it as an ad.
What if the rat stands still, small in the corner?

The thing is, whoever created this picture (or ad), would never allow that. BECAUSE he/she cares about delivery.
Look at the position of the rat, in the center of attention with high light detail and shadow. It makes the picture tells by itself.
As simple as say : well crafted.
As it’s deserve to win something.
Anymore debate about crafts vs idea?

May the Force be with you. Amen.

(My coffee is getting cold by the way. I’ll take a new cup and shut my mouth up)