FineCoffee

Tuesday, September 13, 2005

“Flash back a bit” – a broken cup

Sabtu kemarin pulang ke Yogya, berdua Ginta saja.
Salah satu ritual lama selain ziarah adalah ke rumah Benny.
Benny teman nakal semasa SMA,
Teman setia yang selalu menjemput ke gereja.
Petarung handal yang nyaris menjebolkan perutku sewaktu kumite dulu
Namun juga rival yang gampang aku taklukkan di sirkuit lumpur
sewaktu demam motocross waktu itu.
“Pakailah Yamaha. Bukan Suzuki !”
Masa kuliah mencopot traffic light
Memasangnya di kamar kos.
“Waaooow…terang sekali”
Kami telungkup di lantai memandangnya seperti pohon Natal.

Sabtu kemarin di beranda rumah Benny
“Kapan Benny pulang?”
“………… Benny nggak pulang lagi”
“Kenapa?”
“Benny meninggal mendadak 3 tahun lalu”

Benny merokok 2 pak sehari
(Please don’t smoke, everybody)
Aku pulang dalam diam.
Ginta kecewa batal ketemu Oom nya yang menggendongnya semasa bayi di Bethesda.

---------

Malioboro masih tetap sama
tapi masih sangat beda dengan kebiasaan lama
Bram, hilir mudik dengan jaket Korea dan botol vodka di saku dalamnya
Bram penakluk gunung
Menggigil bersama di 6 puncak setiap akhir pekan
Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, Semeru dan Lawu
Memberiku roti saat kelaparan jam 5 pagi
Matahari merah di cakrawala
Kami sangat kecil di bibir tebing

Lalu,
Bram dikabarkan gila, dalam arti sebenarnya
Entah depresi apa yang begitu kuat menghajarnya

Perjalanan akhir pekan sama sekali tak punya warna

0 Comments:

Post a Comment

<< Home