FineCoffee

Friday, October 14, 2005

“Asian way” – cappuccino with deeper sight

Siri Budhamate namanya.
Art director muda yang kesepian di tengah keriuhan meeting para bule high profile.
Bicara keras, tertawa keras. Agak rasis.
Semacam camp.
Atau fighting club bentuk lain.
Diadu kelompok, semacam kumite tapi beregu.
‘Break-out session’ per delapan berdasar assignment sheet masing-masing.

Kontras.
Kelompok bule sangat ekspresif dengan ‘strategic thinking discussion’, berlembar kertas lebar-lebar, papan tulis penuh coretan.
Dan bahasa tubuh penuh keyakinan.
Bicara keras, tertawa keras.
(Pura-pura berpikir keras)

Kelompok Asia.
Menepi ke pinggir kolam, berteduh di bawah kanopi, bersandar di kursi atau
bahkan duduk di akar pohon besar.
Berdelapan. Siri budhamate ada di sana.
Bule minum bir, Asian minum (lagi-lagi) kopi,
berselonjor menghadapi ‘tugas’ kampanye merek sepeda motor buat India.

Lima belas menit pertama, menunggu kopi datang.
Dua puluh menit kemudian berbagi cerita.
Sepuluh menit ke depan ngobrol ngalor-ngidul lagi.
(Otak saling merekam karena malas pakai kertas)
Sepuluh menit kemudian…ngopi lagi.
Lima menit terakhir saling diam.

Siri Budhamate giliran ke enam.
Selalu seudah kelompok bule, di hari menjelang sore.
Siri Budhamate tidak fasih bicara Inggris.
“Motorcycle is not a transportation” katanya.
“We see beyond product.
It’s just the way we value the product. Emotionally”
Bahasanya semakin lancar sebelum cerita dengan intonasi total.
Tanpa gambar, tanpa flipchart, tanpa storyboard.

Tepuk tangan gemuruh.
Bule tersipu

That’s the way we work. Just talk.
True.
Connecting heads.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home