FineCoffee

Thursday, October 20, 2005

“Honest Tumbnails” – crumple napkin on table 3

(fresh air between consecutive meeting – with and without ‘s’)

Fyuuh…
Akhirnya sedikit bisa bernafas setelah dari jam 9 meeting marathon, diskusi marathon, debat marathon.
Dan oase itu bernama Starbucks dengan frappuccino dingin nyaris beku di ruang tanpa asap rokok yang melegakan.
Dua Barista dengan cekatan melayani di depan coffee machine dalam gerakan seperti terencana, layaknya sebuah koreografi.
(It’s nice to have this kind of intercut shot).

Refresh memory.
Mencoba mengingat apa sih yang sebenarnya menjadi masalah dari meeting-meeting tadi. Jangan-jangan hanya ‘for the sake of talking’ terus berpura-pura pada berdebat dan mencari masalah baru dari masalah yang sebenarnya sudah pecah.

Blocknote tanpa garis setebal 1 rim HVS bikinan sendiri (di binding di Subur dengan cover favorit : Babi) dibuka-buka, siapa tau ada catatan penting.
Di depan ada gambar ikan piranha… ah itu digambar waktu aku bosan mendengar pitutur seorang Dirut yang ngalor ngidul. Dirut kok nggak focus. Biar dimakan piranha saja!
Lalu ada lagi gambar telor mata sapi, ah kayaknya itu sarapan pagi waktu itu. Oh bukan, ternyata logo studionya Eggi.
Ada 2 kata digaris bawah: ‘The lost boy’ dan ‘Railman’ ah aku inget itu waktu mau mulai nulis skrip TVC ‘Mudik’ sambil nunggu klien di ruang tamu.
Tunggu, ini apa nih?
“Value for money. Bawal ganja”
ini dia, pasti rumah makan di Warung Buncit.

Semua seperti flashback.
Coretan naïf gambar bekicot, pompa bensin, garis tangan, gerimis dari mega, kepala tikus, anjing robot, klien bermulut kotak, tangan pegang tangan, sekrup, piranha makan sepatu, piranha makan mikropon, piranha makan becak, mobil bertanduk, kucing mata satu, paha ayam, muka klien, storyboard ngaco, muka jepang goblok, terracotta warior, VW beroda segitiga, voodoo, sampai klien digebuk gada berpaku.
Every single picture talks, paling tidak untuk saat itu.

Yang non visual juga ada (copy based?) selain bullet points catatan penting seperti meeting tadi, misalnya ini:
‘… yang bikin lagi moody sih’ – ini waktu klien mengkritik kenapa storylinenya jadi mellow. Waktu itu meetingnya sama AE favorit.
‘Orang ini nggak punya prinsip’ – waktu klien begitu gampang berubah pikiran.
‘Don’t be long. I am yours tonite’ – hah, apa ini? Oh dialog di tvc yang kena cekal TPI.
‘Pak Anu sepatunya pantofel 60an skale! (di bawahnya tulisan yang dioret-oret)’ – ini ulah teman sebelah.
‘www.uh-oh.com’ – ini pasti nyasar!
‘Terlalu banyak kroco mumet’ – itu meeting 2 bulan lalu.
Dan lain-lain.

Nggak kebayang kalau coretan-coretan seperti itu dikonfrontir dengan coretan sejenis di blocknote lawan meeting. Jadi pengin tahu.
Suka nggak suka, bener nggak bener, sopan nggak sopan, seringkali ekspresi spontan seperti itu jujur adanya.

4 Comments:

  • At 11:20 PM, Blogger Stevie Sulaiman said…

    Wuih... www.uh-oh.com ono tenan toh? Tapi nanti dulu deh, yang lain pada banyak yang puasa, bu hao yi si :p Add dulu ke bookmark.

     
  • At 11:39 PM, Blogger glenn_marsalim said…

    you know very well how to make yourself even more sexy by writting this boy-at-heart kind of story. b**t**d!

     
  • At 5:20 AM, Blogger Farika said…

    Yang www.uh-oh.com Frengki kali yang nulis, Mas! Ato pas lagi ngobrol sama Mas Heru :P

     
  • At 5:03 AM, Blogger Mister G said…

    bukannya note aku kamu pinjem ya waktu itu?
    heuheuheu....

     

Post a Comment

<< Home