FineCoffee

Thursday, November 17, 2005

" Guru” – who have told you how to brew good coffee


Guru membukakan wawasan baru yang mencerahkan. Kadangkala begitu arif, mengejutkan atau mencambuk menyakitkan. Guru mengajarkan esensi tentang perbuatan, menyentil untuk mengisi kekurangan.

Guru A – Z sesudah “The Maha Guru” up there.

Guru A :
Pak Warino, penggarap tegalan di Pujon - Malang, yang dengan segala ketulusan menyuguhkan kopi yang disangrai sendiri dengan sepotong gula aren sewaktu aku berteduh dari basah kuyup hujan siang-siang. Ini awal pengetahuan kenapa black coffee lebih enak dengan brown sugar.
Sampai kapanpun kebeningan matanya tidak akan terlupakan, tulus. That was the best coffe, ever. I have to pay it forward.

Guru B :
Almarhum mBah Maridjan, juru kunci Gunung Merapi di desa tertinggi Kinahrejo yang mengajarkan kearifan dan keseimbangan alam sebelum kami mulai mendaki jam 11 malam.
“Nak, mangke wonten ingkang bade nedahaken mergi, sampun dipun gusah”.
(Nak, nanti akan ada yang menunjukkan jalan, jangan diusir).
Pagi-pagi buta seokor burung jalak berjingkat-jingkat di jalan setapak di depan kami.
“Nak menawi sampun dumugi Gigir Boyo, sampun ningali ngandap. Panjenengan madepo bumi”
(Nak, kalau sudah sampai Gigir Buaya –daerah paling berbahaya, terjal berbatu menjelang puncak Merapi – jangan menengok kebawah. Menghadaplah ke bumi)
Sewaktu merambat di kemiringan 60 derajat kami mencengkeram karang. Di punggung kami adalah jurang lurus ke bawah sampai kota Yogya. ‘Menghadap ke bumi’ adalah pasrah kepada pencipta alam di ketinggian sekian ribu meter.

Guru C :
Pak Imam, montir Honda yang setia kepada profesi dan tanpa setahu dia mengajarkan ‘passion’ dalam menuntaskan pekerjaannya tanpa eror apapun.

Guru D :
Pak Kamal Mustafa, film director yang mengajarkan realitas kehidupan di layar film atau dalam setting komersial. Mengajarkan detail script writing dan originalitas segala karakter manusia.

Guru E :
Pak Wiryadi, pelaku bisnis yang mengajarkan pengaruh ekonomi makro dan kaitannya secara sederhana agar otakku yang tumpul bisa memahami angka-angka.

Guru D :
Agus Arbana, associate ku yang tanpa setahu dia aku belajar memahami pluralisme antar agama.

Guru F :
Desinta Intan Larasratri, anakku yang kedua – kritikus dahsyat yang bilang “Biasa aja!” sewaktu aku tanya komentarnya tentang iklan terbaru yang aku bikin. Artinya, ada kekurangan.

Guru G :
Pak Sugiarto Sosrojoyo, ayah dari para pemilik brand Sosro yang dengan kesederhanaannya setiap pagi berjalan kaki ke pabrik, yang mentraktir sate kambing di warung sambil ngobrol sedekat itu. Yang tanpa beliau sadari mengajarkanku apa artinya integritas.

Guru H :
Mas Wahyu, marinir yang mengajariku bagaimana bertahan dalam kondisi minim.

Guru I :
Yasmin Ahmad, wanita multi talented yang mengajari esensi kemanusiaan dari segala profesi. Mengangkat kelemahan menjadi kekuatan, memahami manusia dari dan dengan talentanya.

Guru J :
Pendeta Dr. Daud Palilu yang mengajarkan untuk mendahulukan kepentingan sukma di atas kepentingan daging.

Guru K :
Linda Locke, ‘police woman’ regional ECD yang mengajarkan ‘managing creative excellence’, mencambuk, memonitor tanpa henti

Guru L :
Para mahasiswaku di Petra Surabaya, yang dengan segala kehijauannya menunjukkan pola berpikir dari angle lain yang segar. Semakin valid nasihat ayahku dulu bahwa, mengajar adalah diajar. I can see the bright side..and sight.

Guru M :
Moh. Hisam, penjaja nasi lemak dan teh tarik di Bangsar Malaysia yang dengan kebanggaan profesinya selalu menyajikan his best cuisine. Meneladani apa arti persaingan.

Guru N :
Pak Irwan (lupa2 ingat namanya meskipun berkali-kali mengunjunginya), pemilik pabrik kopi Aroma di Jalan Banceuy 51 Bandung, yang meneladani sebuah komitmen besar terhadap kualitas produk. Yang mengajak ke ruang belakang tempat beratus-ratus karung kopi disimpan dekat alat penyangrai yang tradisional. “Ini Arabica usia 8 tahun dalam penyimpanan. Nggak akan bikin kembung meskipun diminum saat perut kosong. Syaratnya airnya harus mendidih” itu nasihatnya selalu.

Guru O :
Pak Adji Baroto yang pernah memarahiku untuk disiplin dan tegas dengan keputusan sebagai manager karena keteledoranku mempertahankan kesalahan yang dibuat anak buah.

Guru P – R :
Teman-teman, sahabat dekat yang mengajarkan interaksi human being, mengingatkan banyak hal, menegur di saat kekhilafan.

Guru S - U :
Situasi, yang mengajarkan harus berbuat apa dan bagaimana.

Guru V - Z :
Anonymous teachers, yang tidak pernah menyadari bahwa aku mengaca kepada mereka, mencuri sekian genggam nilai-nilai dan berusaha menularkannya tanpa keinginan untuk disebut sebagai guru.

6 Comments:

Post a Comment

<< Home