FineCoffee

Friday, September 09, 2005

“Underground voice” – you must try kopi tubruk at 6:30 Ambarawa Time

Subhead :
The Warung under the Klengkeng tree

Kebiasaan pagi yang tidak ingin aku hilangkan sewaktu jalanan sudah mulai menunjukan gejala kemacetan adalah mengamati ekspresi arus bawah.
Kalau sudah begini biasanya Sesek atau Jito kirim SMS –aku yakin dia sedang dalam situasi sama.
o/o : Ada Metromini tulisannya ‘Ayu Adine’
+/+ :Itu penyesalan
o/o : Mungkin keterpaksaan
Bisa jadi keterbatasan pilihan pada desakan situasi tertentu. Ayu Adine (Adiknya lebih cantik) lebih menyiratkan ekspresi bernada getir bukan?
Ada nada keterlanjuran.
Tapi tunggu dulu, siapa tahu itu sebuah action plan.
Sebuah misi memilih yang segera dilancarkan
Call to action? Who knows.

Satu pagi Jito excited mengirim SMS.
x/x : Aku lihat mobil bak terbuka, di kacanya ada tulisan gede ‘Mendem Wedokan’ (bhs Jawa : mabuk perempuan).
+/+ : Aku pernah lihat itu di Tangerang
x/x : Aku lihatnya di Pancoran. Warnanya biru kumuh kan?
Oh berarti dia sangat mobile.

Setiap pagi kami mencatatkan rekor pengamatan kepada GSM Provider masing-masing. Semacam brand experience, gituh…
Dan masing-masing saling berkompetisi terhadap level kualitas ekspresi arus bawah tadi.
Semakin lucu semakin tinggi score-nya.
Gentlemen’s agreement yang secara tidak sengaja telah terbentuk.

Kadang-kadang ada juga yang nggak lucu meskipun jalan macet 2 jam dari rumah ke kantor. Misalnya pernah begini (ini true story lho).
Saking desperate nya nggak ada –istilah kami, copy lucu- pernah aku pancing Sesek :
+/+ : Ada mobil Zebra berhenti, belakangnya terbuka. Ada tulisan ‘Jual Nasi Gudeg’. Maksudnya apa ya?
Ini jelas nggak lucu. Terbukti Sesek dalam 20 menit nggak merespons sama sekali. Malah ngajak plesetan jorok.
Ini sebuah indikasi persoalan yang tidak punya potensi untuk membangkitkan masalah. Huh, useless.

Pagi lain, di Cawang (aku lupa mau kemana pagi-pagi lewat jalur Cawang yang tidak biasanya. Aah ya…keluar dari rutinitas!) aku lihat “The Best Underground Voice Ever” di Kopaja. Tulisannya kuning (Yellow 100, Magenta 15) ditempel di kaca belakang, bunyinya : ‘Istrimu bekas pacarku’
Sumpah. Siapapun yang menulis itu berhak mendapat Golden Trophy Human Insight Asia Pacific. Apa seeeh…?
Seketika aku SMS sepuluhan teman yang punya level sensitivitas humor yang sama : Arbana (copy base yang ngelayout), Fachry (tukang servis klien) , Pungki (pebisnis barang pelabuhan), Ipang (Mohawk yang minumnya susu), Nina (fans dari Edwidge Fenech), Sesek (muka Nicolas Cage hati Tommy Page), Farika (Vivid Entertainment), Jito (Children of God), Joko HP (anggota DPR), Budiman (pengusaha), Mas Anton (pengusaha), Mas Nungki (pengusaha), Surya (pengusaha), Andi Sadha (pengusaha) dan sebangsanya. Trus aku apa dong?
Reaksinya lucu-lucu, pol.
Yang garing pasti ada lah, bawaan lahir.
Nina yang paling ancur.

Ada juga yang mengundang reaksi lucu hanya pada kelompok tertentu. Segmented, kata para praktisi periklanan. Ndasmu !
Alasannya masalah bahasa. Kasusnya mirip iklan Baygon berbahasa Inggris yang dimuat di majalah Ayah Bunda.
Mau dikirim ke award forum yaaaaa….hayo ngaku.

Kejadiannya siang sehabis makan bareng di Sumpit (nggak penting!) dengan Budiman Hkm. Di lampu merah ada Kopaja berhenti dan mobilku (yang musiknya pilihan itu) berhenti tepat di belakangnya.
Ada stiker di kaca belakang. Fontnya Baskervillle Semi Bold warna merah (Pantone 135).
Ada sederet kalimat yang berbunyi : ‘Lali jenenge. Kelingan rasane’
Sewaktu aku SMS ke Jito dan Sesek, mereka terbahak-bahak. Tapi waktu aku kirim ke Budiman, eh malah nanya “Apaan tuh?”
Heuh, payah.
Bukankah bahasa Jawa adalah kunci sastra dunia dan titik tolak copywriting modern? Bukan ya? Oh itu mie Jawa.

Tapi ada juga ekspresi yang gloomy lho.
Pagi-pagi (jam 9.56 masih pagi kan?) aku belok di lampu merah Simprug Mobil yang menjual sederet VW Beetle dan VW Golf (kata Pungki VW Golf harganya 300 jt. Asu, nggak penting banget ditulis). Persis di samping The Pakubuwono ada gerobak pemulung yang ditarik pemiliknya. Pelan dan terbungkuk-bungkuk.
Lebar gerobak yang hampir tiga perempat badan mobil membuat para pengendara di jalan itu memperlambat kendaraannya.
Tidak ada yang istimewa pada gerobaknya. Kayu kaso segi empat dengan roda yang bannya selalu kempes dan seng abu-abu kumuh.
Tapi lihatlah apa yang ditulis di bagian belakang :
‘Nitip rindu buat Ayah. Di sini malu bertemu”

Aku coba pancing reaksi Sesek, kira-kira maksudnya apa. Dia mencoba melucu, tapi kok jadi nggak lucu.
Statement yang ditulis oleh seorang pemulung yang tidak pernah mengerti apa itu copywriting, headline, slogan, caption, lead-in copy, yang menimbulkan efek ‘Blaaaarrrr!’

Lucu atau mellow (juice mellow), suara-suara Kelompok Rawa (istilah lain untuk arus bawah) seperti itu ‘di posting’ dengan spontan, honest, satire, ironis dan seringkali telanjang.

Dengarlah suara arus bawah. Insightful dan penuh warna.
Nongkrong menghirup kopi tubruk di warung bawah pohon tidak kalah nikmatnya dengan Illy Coffee kafe-kafe di Bangsar Petaling Jaya sana.
(Bangsar lu…)

Hahahaha…
(sesuai kesepakatan dengan Budiman, ‘Hahahaha…’ adalah gentlemen’s agreement untuk mengakhiri pembicaraan SMS)

Thursday, September 08, 2005

“Craftsmanship hahaha….” – got coffee maker at home?

Here is the detail :
Two spoonful of 8 years old Arabica, 100 degrees boiled water, brown sugar in a ceramic cup. Never drink coffee from the glass! Never, you won’t get the essence. And…don’t share with anyone else. Coffee is a selfish intimate moment. Jealous?

Jealousy is such a big thing. Why?
Nggak percaya? Lihat aja : Creative Guilt of The Philipines, Singapore Creative Circle, Malaysian Kancil Award, MC2. Masih kurang?
Suthisak, David Guerrero, Thay Guan Hin, Andy Greenaway, Chukiat Sarunsouk, Graham Kelly, Jureeporn Thaidumrong, Tham Khai Meng…., you name it.

No, no…! I won’t compare them here. Don’t worry.
Rileks aja, duduk manis, enjoy the show. Mau di sofa? Atau pengin kemana? Pattaya? Hong Kong? Kuala Lumpur? (Florida kemahalan ‘kali ya…dan apalah yang menarik dari Amerika, anyway).
Tinggal bilang sekretaris untuk booking kamar hotel. Ah, ambillah paket tur ke Asia Pacific Adfest, bukankah Adfest menurut biro perjalanan lokal dijual sebagai obyek turis?
Tourist destination. Mmmmpppffft…!!
Naaaah… jangan lupa stay over night di KL sewaktu balik. Toh ada semalam gratis untuk dinikmati. Vincci, MAC, Birkenstock, Mango, Salak Pondoh ooops…. Kapan lagi?
Mumpung pesiar (pesiar??) ke Adfest. Dibayar kantor lagi.

Watching is such a shame thing. What’s wrong?
Dua tahun lalu aku pernah bilang ke beberapa orang di koloni eksklusif - sebut sajalah Crat-cret Circle Indonesia (bagusan Cret atau Crut? Pokoknya pakai ‘C’). Sambil duduk di pojok minum bir dingin sebelum penyakit lambung kambuh.
Hari itu aku bilang bahwa craftsmanship adalah makhluk yang menyeret kita jauh ke bawah garis kepantasan.
Tidak seorangpun yang merespon waktu itu.
Should I care?

Sampai pada suatu hari pertengahan bulan Maret di sebuah gala dinner Adfest tahun berikutnya –round table dinner, salmon and wine and bisik-bisik- terdengar entah kutukan entah gerundelan, tapi cukup vokal disela-sela wara-wiri orang yang naik turun stage.
Begini bunyinya :
“Manaaa iklan kreatif dari Indonesia? Malu-maluin, kita di bawah Thailand dan nggak bisa ngelawan Malaysia. Lu bikin dong!”
(SFX : Gludug! Sikut menyenggol sikut).

Terus terang aku setengah kasihan dan setengah nggak peduli dengan ucapan tokoh kita tadi.
Kasihan karena orang tadi buang waktu dan 500 USD (plus tiket plus 4500 baht wisata malam?) untuk datang ke event tersebut - mendingan buat belajar bikin layout di rumah.
Tidak peduli, karena sosoknya memang nggak penting untuk didengarkan. Lagian kenapa dia nyuruh bikin? Lah kenapa nggak bikin sendiri?

Aku juga tidak berharap banyak sewaktu ngomong bahwa craftsmanship begitu pentingnya di forum koloni Crat-cret Circle Indonesia dulu.
Cuma waktu itu terdengar : “ Yaa tapi kan ide lebih blahblahblahblah
blahblahblahblah………. Yadiyadiyadiyadiyadiyadiya….nguengnguenggggggggggeeeeerrrrrrr”
(SFX : suara tawon).
Ya sudahlah.

An ad consists of idea.
It’s a must. It’s given.
It’s a masturbate if there’re any excuses by slipping blank idea into a beautiful picture.
It’s a damn fool.
(eh…. damn atau fucking ya?)

Nggggguuuenguengppppppzzzzzzzz….
SFX : tawon fade out
Semua sepakat bahwa dalam hal ide kita tidak kalah dengan mereka.
Apalagi dibanding bule-bule itu !!
Heuh.
Gagah sekali.

Jadi, kenapa masih mempermasalahkan ide?
Iklan yang nggak punya ide, ya cuma pengumuman.
(Kok lama-lama bahasanya kayak Budiman Hakim ya? Buku ‘Lanturan di jalur Pantura’ itu kan basic banget! Bagusan juga bahasa pengantar di halaman XXV. Narsis !)

…..jreng jreeeeeng!

Yang jadi permasalahan adalah, iklan yang idenya kuat tetapi tidak dieksekusi dengan baik. Terjadinya mungkin karena ide didewakan sedemikian rupa dan presentasinya dibiarkan berlepotan sedemikian rupa.
(Aku menulis ini di atas PowerBook G4-12 inch yang jarak antar huruf di keypad-nya tidak pernah aku percayai. Karena aku peduli dengan kerning dan spacing. Tapi kalau aku bahas ini pasti sampai ke never ending polemik antara art director dan copywriter lagi... Bodo amat!)

Yang terhormat kaum peng-ide, berapa persenkah anda peduli kerning, spacing, cropping, lighting, compositing, font sizing, retouching, copy editing, art directing dan segala ‘ing’ lain kecuali petting…and many other things?

Logo yang ngejedor gede banget, atau photo yang pucat, font yang 16 macam dipakai semua.
Ah, nggak stylish.
Dan celakanya mereka (yang naik turun panggung tadi) peduli lho! Anjing!

Inget gambar anjing dan tikus yang muntah-muntah di print ad ABC Cooking School?
Coba deh dilihat. Don’t even think that is an ad, at your first glance.
Just connect the picture and the wording “ABC Cooking School”
Got the idea of it?
Kalau nggak tau mungkin memang harus disekolahin lagi. Bukan cooking school tapi penjara, heuheuheuheu …

At your second blink, let see it as an ad.
What if the rat stands still, small in the corner?

The thing is, whoever created this picture (or ad), would never allow that. BECAUSE he/she cares about delivery.
Look at the position of the rat, in the center of attention with high light detail and shadow. It makes the picture tells by itself.
As simple as say : well crafted.
As it’s deserve to win something.
Anymore debate about crafts vs idea?

May the Force be with you. Amen.

(My coffee is getting cold by the way. I’ll take a new cup and shut my mouth up)

Monday, September 05, 2005

Shanghai evening - Italian coffee on 56th floor

You must be familiar with light
As I clicked my card key, you were there
Sitting on a burgundy couch against the light, blocking my sight
Bluish keylight on your shoulder draws your shape
Wasn't fully silhouette, indeed.
You have got full lips

Where are you?
Last time you refused to send an electromail
A vintage water color poscard just landed
Bicycle ride in Vientianne

You're sitting across the long table
That was the first time
Hi-stylish resto on 56th floor
A Shanghai evening
Colony of High caliber people - as we claimed

The Latino sat next to me started with his sketch of you
I didn't understand his singing
Your lips on red
Wasn't really red - a young strawberry
Then a glimpse delivery of smile
That's it!
That's enough.
I work with hi-speed memory capturer

As wine ready to pour
You're asking for Italian coffee

Where are you?
I recall a street corner of Ho Chi Minh City
You're laughing to agree

Vietnamese coffee is the best