FineCoffee

Monday, January 23, 2006

“A cup of Coffee Pride” – secangkir kopi pahit … mmmmpppffff

Seorang mahasiswa kampus mahal bertanya kepada seniornya yang sudah bekerja di sebuah advertising agency “Kak, kalau kerja di agency biaya kuliah kita bisa balik modal nggak ya?”
Si senior menjelaskan dengan panjang lebar, antara lain cerita tentang career development, glamorous business, strategic thinker, pokoknya semua yang ‘bersinar’ – yang ujung-ujungnya sebenarnya dia tidak menemukan jawaban yang eksak tentang urusan balik modal tadi. Maklum dia juga masih terbilang baru di bisnis ini.

Yang menjadikan penasaran adalah, apakah dalam conversation tadi disingggung tentang pride. Urusan kebanggaan profesi yang mungkin bisa ‘menghibur’ si yunior dan sekaligus ‘ngeles’ jawaban tentang urusan balik modal.
Bahwa sebuah profesi mengandung muatan yang namanya ‘kebanggaan’.
Bahwa sebuah pekerjaan dilakukan dengan yang namanya ‘kebanggaan’
Paling tidak si yunior terhibur oleh cerita tentang optimisme.
Akhirnya itung-itungan balik modal bisa tersamarkan oleh imaji bahwa masuk di bisnis advertising dia akan menjadi ‘the chosen one’ (wueheheheee elok tenan ki…).

Atau itunglah modal (nantinya) dengan yang namanya ‘kebanggaan’ – yang ini nasihat para pengusaha :P

Tetapi sebenarnya urusan ‘proud to my profession’ ini, seberapa banyak sih dipunyai, dan seberapa besar memotivasi?

Jika seorang AE di agency menulis brief membingungkan (baca : ini cuma misalnya!) , atau ngeset meeting tanpa tahu persis agendanya apa, atau blingsatan kalau tahu tim kreatif berhalangan presentasi (simply becoz dia nggak akan bisa jualan sendiri kecuali jualan You Know What – sejenis Lord Voldemort ‘You Know Who’), bisa kita tanya dengan mudah : ‘Apakah Anda bangga dengaan profesi Anda?’
Semoga dia akan menjawab “Ya, saya bangga” – seperti seorang yang ditanya Pendeta apakah dia siap mengikuti Perjamuan Kudus akan menjawab “Ya, saya siap” ☺

Atau tanyalah seorang Art Director yang bekerja semata-mata demi kelangsungan cicilan Honda Tigernya, “Apakah Saudara bangga dengan profesi Saudara sekarang?”
Semoga dia akan menjawab “Ya, saya sangat bangga”.
Sejuk rasanya dunia professional kita.

Masalahanya adalah kalau jawabannya :
“Bangga? Boro-boro gue bisa kerja. AE itu musti ngapain, gue juga belon ngerti”

Waaaaaa….ya pantesan dia expert nulis brief yang bikin pusing
Waaaaaa….ya pantesan dia lebih pinter jualan You Know What (apa seh?)
Waaaaaa (juga) pantesan dia jadi pengrajin layout doang
Dst…dst.

Howard Schultz sewaktu baru mulai merintis bisnis Starbukcs hingga seperti sekarang sangat bangga menjadi penyangrai kopi, simply becoz dia bisa tahu (yang orang lain tidak tahu) bahwa kualitas kopi terbaik adalah dark roasted bean yang di akan ditengarai dengan melenting tiga kali di tungku pemanasnya.

Balik modalkah?
Yang jelas Howard Schultz sekarang worldwide CEO Starbucks.
Dulunya mahasiswa juga sih….

6 Comments:

  • At 7:32 AM, Blogger Diki Satya said…

    *nyes!!*
    somewhat a more calm writings than 'you know who'..
    hehehe

     
  • At 8:09 PM, Blogger Mister G said…

    Dick yang difotomu itu apa sih? Ular dari mas Roy ya?
    Mau dimasukin MURI lho.

     
  • At 12:22 AM, Blogger Diki Satya said…

    Iya, foto Mas Roy.
    Dan aku udah pilihin fotoku kalau2 dimuat.
    HUAHAHAHAHAHAHAHAHA..

     
  • At 9:59 AM, Blogger yoga said…

    Wah, tulisan ini udah kaya secangkir kopi yang membangunkan saya di tengah kantuk lembur kejar deadline.

     
  • At 7:58 AM, Blogger M. Arief Budiman said…

    Howard Schultz is an interesting person.. I've finished his book, Pour Your Heart Into It. Glad to know you write about this man, Mr Gandhi..

     
  • At 10:58 PM, Blogger Nia said…

    mas gandhi...
    kalo uang kuliah saya belom balik modal, tapi batin saya udah mencapai BEP...sudah pantes dong kalo saya bilang "saya bangga jadi copywriter"

    salam kenal

     

Post a Comment

<< Home