FineCoffee

Monday, January 16, 2006

“Tour de…javu” – Kopi Tubruk under the Klengkeng tree part II

Akhirnya diputuskan jalan darat. Why not? Lagian udah 3 tahun nggak pulang naik mobil.
Kali ini dengan perjanjian : back road (bukan back street). Harus keluar dari jalur peta umum.
Maka diservislah (bahasa apaan sih?) mobil yang biasa-biasa aja ini menjadi ruuarrr biasa – secara pengeluaran ongkos bengkel, untuk memaksimalkan kenyamanan selama 12 jam nonstop Jakarta-Yogya.

Singkat kata – karena kalau nggak disingkat lebih nggak menarik – jam 06:00 berangkat, nylonong di tol salah belok. Roh belum sepenuhnya bangun. Baru mak byaaar… setelah mampir Starbucks Take Away di tol Cikampek (yang ini maksa, di pas-pasin :P)

Sampailah Cirebon dalam 4 jam. Not bad, nothing special selain jalan terbelah karena belum selesai diaspal. Kebayang teman-teman yang kena macet mudik Lebaran kemarin.
Menjelang masuk Jawa Tengah mulai ada fenomena menarik.

Di sepanjang Cirebon-Brebes-Pekalongan-Tegal tiba-tiba terjadi perang brand.
Buat para penikmat malam di trotoar (halaaah… bilang aja lesehan) sepanjang Melawai, Pangpol, TIM atau Otista pasti akrab dengan brand ini.
Teh cap Poci dan teh Tongtji – 2 local hero saling beradu penampakan di restoran, mini market, pasar basah, warung atau contract venues yang lain. So obvious.
Nggak ada brand lain. Unilever mendadak tewas di kandang 2 pemain lokal (pabrik 2 merek ini cuma berjarak 2 km di Slawi sana). Dan lucunya di level produsen, peperangan ini berlangsung sangat santun.
Ini cerita dari salah satu Product Manager mereka.
Kalau restoran si Anu sudah dipasangi billboard (papan nama –red) Tongtji, maka produsen Poci akan bilang : “Oya sudah, ndak papa…”
Yang penting semua minum teh dari Slawi yang notabene adalah teh melati, bukan teh vanilla, teh hitam atau teh hijau. Semangatnya begitu.

Sampailah di Yogya, 12 jam nonstop nggak bisa ditawar. Padahal dulu bisa 9.5 jam sebelum yang namanya CRV, Innova, Jazz, Panther, APV, BMW, Hino, Peugeot, Lancer, Mercedez – apalagi ya, nggak penting juga - bertambah populasi.

Wisata kuliner di Yogya selalu flash back ke era kejayaan masa sekolah. Bakso babi Bethesda tempat makan awal kejahatan karena nggak pernah bayar, nasi goreng Purosani masih dengan istilah A atau B (A untuk ayam dan B untuk babi), angkringan dengan teh nasgitel (panas-legi-kentel) disruput berjam-jam sambil duduk ngangkat kaki ngobrol ngalor ngidul dengan eksotika padang rembulan. Atau gudeg depan Klenteng mengingatkan masa pacaran sehabis nonton di Permata, mie goreng Doring (di Jakarta di branding jadi “The Mie Jawa”, kemlinthi…) tempat Sultan mingle dengan rakyat. Warung mbah Wongso almarhum dengan expertise menuang ceret panas tanpa tumpah ke cangkir dengan mata terpejam karena ngantuk berat di jam 1 pagi, yang mengingatkan anak-anak senirupa dulu lebih banyak nongkrong ngegelek (70an sekali!) dari pada ngeteh. Atau jadah tempe Kaliurang yang masih menjadi the final culinary destination, padahal dulu cuma jadi alesan bolos sekolah sampai malam dan balapan motor meluncur turun sepanjang 25 km tanpa lampu hingga kampus UGM. Adu nyali yang sangat bodoh.
Semua seperti video yang di rewind dan playback ulang.

Paginya sempat ke kabupaten, lewat bekas rumah dinas bapak dulu dengan pohon mangga yang kalau berbuah sampai merunduk ke kali depan rumah. Anehnya perempatan jalan yang dulu terasa lebar banget kok sekarang sempit banget. Apa karena dulu aku masih 10 tahun dan kurus, dibanding sekarang dengan bobot 80 kg? Everything seems like shrinking. Atau karena aura J-A-K-A-R-T-A dengan jalan tol lebar yang mahal itu? Serasa berada di time tunnel.

Perjalanan balik diguyur hujan sepanjang jalan dan harus menghindar lubang-lubang di aspal yang menyakitkan buat shock absorber mobil.
Ekspektasi pertama adalah berhenti di daerah Purworejo minum legen (nira manis dari pohon kelapa) yang dijual di pinggir jalan, dituang langsung dari bumbung-bumbung besar.
Alamak, yang ada kok ya udah dikemas di botol plastik air mineral dan di display (baca ‘dimanis-manisin’ –red). Wah, turned-off, il-fil, nggak ragged, hilang karakter dan yang lebih penting… nggak eksotis lagi.

Sampailah di Bumiayu sebelum naik kearah hutan kecil menjelang Slawi.
Terjadi fenomena menarik lagi, kali ini rokok.
Semuanya Djarum Coklat atau Djarum 76 dan sedikit Gudang Garam.
No Philip Morris. Maaf, it’s local brand’s territory.
(Ini mudik apa riset sih?)

Dari Gudang garam yang sedikit itu ada yang sangat stands out.
Yaitu Gudang Garam Djaja (Jaya) dengan banner (‘spandoek’-red) hijau tua dan tagline : Djaja di Lapangan, Djaja di Kondangan.
Huahahaaaa…. Kok langsung kebayang visualnya si Sesek maniak bola itu pakai kopiah dan sarung pergi kondangan.

Sampai Jakarta…ealaah kok ya inget lagi besok musti lembur pitching.
Tahu gitu nggak usah balik….

7 Comments:

  • At 5:16 AM, Blogger Diki Satya said…

    Emang yah, kalo udah nyeritain mudik itu passionnya beda. Suka pengen diceritain semua.

    Mas,
    Blognya di-link ke aku ya..

     
  • At 4:23 PM, Blogger M. Arief Budiman said…

    Ketika mudik, jiwa di-rew, saat menyapa Jakarta di-ff lagi.. Enjoy aja Mas :)

     
  • At 8:19 PM, Blogger genepKENDRA said…

    Ternyata dulunya sampeyan "gali" juga ya mas, mesti kenal karo mendiang Slamet Gaplek yo yang hilang kasus petrus? :-p

     
  • At 9:15 PM, Blogger Mister G said…

    Mungkin karena mudik itu ada flashbacknya. Kontemplasi asal muasal, review perjalanan sebagai kaum urban, tidak melupakan asal usul dsb..dsb jadi ya penginnya detail.

    Jaman Petrus ada istilah "jape-methe", kalau parkir bilang gitu pasti gak bayar heheheee....

     
  • At 3:59 AM, Anonymous tuaniwan said…

    Gandhi Soeryoto, lelaki Pojok Beteng yang sudah berumah besar di BSD ini secara spektakular berhasil mengemas dan menceritakan masa lalunya dengan sangat baik... Semoga Saudara Haris Thajeb mengikuti jejaknya.

     
  • At 12:05 PM, Blogger joeydenton4475 said…

    I read over your blog, and i found it inquisitive, you may find My Blog interesting. So please Click Here To Read My Blog

    http://pennystockinvestment.blogspot.com

     
  • At 10:07 PM, Blogger Ricky Pesik said…

    biar si joey nggak nongol2 melulu, lu setting comment buat blog dengan pilihan verifikasi huruf.

    Lu kan sebel bukan sama yang beginian? hahahaha

     

Post a Comment

<< Home