FineCoffee

Friday, February 17, 2006

“Ronin” – There’s no Master. And they keep it that way

Sebenarnya untuk siapa ya kita bekerja? Untuk klien kah? (No. We work WITH client not FOR client). Untuk kepentingan brand kah? Untuk President Director kah? Untuk billing agency kah? Untuk mengisi waktu kah? Untuk mengisi perut kah? Untuk melunasi cicilan rumah kah? Untuk mengatasnamakan ‘fun’ kah?

Saya yakin jawabannya bisa bermacam.
Si Pengusaha mungkin bilang untuk menimbun profit dan menepis defisit.
Si Sopir taksi mungkin bilang untuk urusan perut anak istri.
Si Hedonist mungkin bilang untuk menjaga kestabilan pada pemujaan roh yang namanya ‘gemerlap’.
Si Pengutang mungkin menjawab untuk pelunasan cicilan.
Nah, kalau si karyawan?

Sebelum terlanjur menjawab : “Untuk memajukan perusahaan”, terbersit semacam ‘opinion review’ yang mengatakan : “Ah, apa iya sih?”
Kemudian memicu opini-opini lain yang saling berkecamuk di kepala.
x/x : “Lah, kan gue nggak selamanya akan di perusahaan itu”
x/x : “Lah, kan kerja sama si anu belum tentu menyenangkan”
x/x : “Lah, kan bisnisnya naik-turun”
x/x : “Lah, kan ini bukan perusahaan gue”
Dan berbagai macam “Lah…” yang lain.

Bener nggak ya bahwa eksistensi karyawan itu agak mirip dengan tentara bayaran? Of course uang adalah elemen yang penting dan sah-sah saja dijadikan reason atau motivasi. Tapi bayangin kalau untuk menjadi tentara bayaran aja nggak perform.
Mungkin dalam satu periode bayaran dia terima upahnya, tapi akan bisa bertahan seberapa lama ya?
Atau apakah akan ada para pembayar lain yang mau merekrut?
Maka mungkin kuncinya adalah kemampuan atau performance untuk bisa survive.

No matter mau kerja di mana, profesi apa, durasi kontrak yang seberapa, gaji dan fasilitas yang seperti apa, yang namanya performance perginya nggak akan jauh dengan eksistensi bukan? Sepertinya begitu.

------------

Maka pergilah ke 11 Ronin (atau Ocean Eleven? :P) menembus kabut tebal di Puncak, mengesampingkan pekerjaan hari itu dengan satu fokus : Performance.
Ronin yang diindoktrinasi untuk aware dan loyal kepada profesi di manapun dia berada. Untuk bisa survive dalam kondisi siapapun yang dihadapinya nanti. Bukankah profesi juga merupakan kemampuan yang didayagunakan secara konsisten?

Jadi, untuk siapa kita bekerja sebenarnya?
Untuk tetap perform pada profesi!
Roniiiin…..
(Halaaah, dasar karyawan!)

11 Comments:

  • At 10:57 PM, Blogger Akbar Amaru said…

    lah, waktu itu ada Ronin ngelamar jadi AD kok gak diambil? hehe :p

     
  • At 9:59 AM, Blogger Diki Satya said…

    nice try, akbar. very nice indeed. :)

     
  • At 12:59 AM, Blogger Stevie Sulaiman said…

    Mantan CD saya bilang: "Kerja itu kan hanya sebahagian dari hidup kita."

     
  • At 7:46 PM, Blogger Akbar Amaru said…

    Waduh mas diki, yang saya maksud ronin bukan saya. Mr. G pasti tau siapa...
    :)

     
  • At 10:33 PM, Blogger Mister G said…

    Ronin Sianturi...

     
  • At 12:06 AM, Blogger Farika said…

    Heuheuheuheuheuheu! Ronin Sianturiiiiiiiii???? Hadoooooh emang paling jago dah!!! Salut! **sembah2**

     
  • At 5:57 PM, Blogger Cynth said…

    Selama kebahagiaan terbayarkan oleh kepuasan menjalani profesi, kesetiaan akan datang dengan sendirinya.

     
  • At 3:37 AM, Blogger Mister G said…

    Wise Cynthia :) Thanks.

     
  • At 2:23 AM, Anonymous uci said…

    huuuuh curang, aku kok ga pernah ke acara kayak gitu.. >:(

     
  • At 10:37 PM, Blogger Mister G said…

    hehehe... ah ini cuma event kampungan kok. makannya aja mie jawa :P

     
  • At 7:03 AM, Blogger ::i:: said…

    kalo ronin makannya mi godog jogja,
    ntar kalo Sushi-nya biar dimakan Sentot Prawirodirdjo...

     

Post a Comment

<< Home